IKLAN

IKLAN

Minggu, 13 September 2009

Post Laparotomi dan Kistektomi

iklan
Manajemen asuhan kebidanan pada ny.”E”
Post laparotomi dan kistektomi
Di ruang rawat Gynekologi
RSUP DR.M.Djamil Padang
Tgl 14-15 Oktober 2008
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ny “E” dengan Post Laparatomi dan Kistektomi di Ruang Rawat Gynekologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Tanggal 14-15 Padang.
Dalam penulisan makalah ini banyak sekali pihak yang membantuan penulis dalam penyelesaian makalah ini, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
  1. Ibu Siska Helina S.ST selaku dosen pembimbing PKL yang telah banyak memberikan pengarahan, bimbingan dan dorongan selama penyusunan makalah ini.
  2. Ibu Murnita Amd.Keb selaku pembimbing lapangan yang talah bersedia nmembagi ilmunya dalam pelaksanaan PKL ini
  3. Orang tua yang telah memberikan dorongan baik moril maupun spiritual
  4. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan semangat dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyajian dan penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis menerima kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan untuk masa yang akan datang. Akhirnya dengan penuh harapan dan doa mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Padang, Oktober 2008
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................. i
DAFTAR ISI......................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang....................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah.................................................... 1
1.3. Tujuan................................................................ 1
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1. Pengertian Kista Coklat............................................. 2
2.2. Etiologi Kista Coklat .............................................. 2
2.3. Patologi Kista Coklat........................................... .... 3
2.4. Macam-macam Kista ............................................... 4
2.5. Gejala-gejala Kista Coklat......................................... 8
2.6. Komplikasi Kista Coklat............................................. 9
2.7. Penanganan Kista Coklat.......................................
2.8. Prognosis Kista Coklat.........................................
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengumpulan data ................................................. 12
3.2 Manajemen ......................................................... 16
BAB IV KESIMPULAN
4.1 kesimpulan........................................................... 22
4.2 Saran.............................................................. ... 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kista banyak terjadi pada wanita di usia subur atau reproduksi dan cukup populer di telinga wanita. Kista biasanya dapat mengecil atau hilang dengan sendirinya setelah wanita memasuki masa menopause, karena menurunnya aktivitas indung telur. Kista banyak jenisnya dan tidak selalu berbahaya. Belum ada jawaban yang pasti mengapa kista dapat timbul, apalagi seringnya kista tidak memberikan tanda dan gejala khusus, sehingga si penderita tidak menyadarinya dan baru diketahui secara kebetulan pada saat memeriksakan diri ke dokter dengan ultrasonografi atau USG (ultrasonografi). Namun demikian pemeriksaan tetap perlu dilakukan untuk mengetahui indikasi dan penanganan yang lebih tepat. Kista coklat lain dengan kista biasa, kista coklat disebabkan oleh kelainan yang dinamakan endometriosis sehingga nama lain kista coklat adalah kista endometriosis. Kista Endometriosis atau Kista coklat, adalah salah satu diantara tiga penyebab terbanyak kasus infertilitas wanita. Oleh karena itu maka penulis mengambil “Kista Coklat” sebagai judul makalah.
1.2 Tujuan
Tujuan umum
Mampu melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan kista coklat
Tujuan Khusus
  • Melakukan pengkajian pada klien dengan kista coklat
  • Menganalisa data dan menegakan diagnosa kebidanan
  • Menyusun rencana asuhan kebidanan pada klien dengan kista coklat
  • Mengimplementasikan rencana asuhan kebidanan yang telah disusun
  • Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan pada kilen dengan kista coklat
1.3 Rumusan masalah
· Pengertian kista coklat
· Etiologi kista coklat
· Patologi kista coklat
· Macam-macam kista
· Gejala-gejala kista coklat
· Komplikasi kista coklat
· Penanganan kista coklat
· Prognosis kista coklat
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
  • Kista coklat merupakan benjolan yang membesar, seperti sebuah balon yang berisi cairan, yang tumbuh di indung telur. Cairan ini bisa berupa air, darah, nanah, atau cairan coklat kental seperti darah menstruasi yang (www.Kespro.com)
  • Kista coklat atau endometrioma merupakan kista yang biasanya terdapat diovarium, tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar, kadang-kadang sebesar tinju berisi darah tua menyerupai coklat. (sarwono, Ilmu kandungan)
2.2 Etiologi
· Belum ada jawaban yang pasti mengapa kista dapat timbul, apalagi seringnya kista tidak memberikan tanda dan gejala khusus, sehingga si penderita tidak menyadarinya dan baru diketahui secara kebetulan pada saat memeriksakan diri ke dokter dengan ultrasonografi atau USG (ultrasonografi).
· Teori Sampson mengatakan, darah darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba kedalam rongga pelvis.
· Teori Robert Meyer kista coklat atau kista endometriosis terjadi karena ransangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya didaerah pelvis
· Faktor keturunan, perempuan yang dalam keluarganya beriwayat kanker indung telur dan kanker payudara.
· Saudara “kembar indung telur” atau memiliki wajah sama persis, kemungkinan terserang gejala yang sama sekitar 75 %
2.3 Patologi
  • Gambaran mikroskopik dari endometriosis sangat variabel. Lokasi yang sering terdapat ialah pada ovarium. Pada ovarium tampak kista-kista bru kecil sampai kista besar berisi darah tua menyerupai coklat.
  • Darah tua dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista dan dapat menyebabkan perlekatan antara permukaan ovarium dengan uterus, sigmoid, dan dinding pelvis.
  • Kista coklat kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak kedalam rongga peritoneum karena robekan dinding kista dan menyebabkan acute abdomen.
  • Pada permukaan sigmoid atau rektum seringkali ditemukan benjolan yang berwarna kebiru-biruan, sebagai akibat dari timbulnya perdarahan pada waktu haid dari jaringan endometriosis, mudah sekali timbul perlekatan antara alat-alat disekitar kavum douglasi
2.4 Macam-macam kista ovarium
· Kista kista lutein.
Besarnya kurang dari 5 cm. Disebutkan, kista ini tidak berbahaya, tidak perlu diangkat apabila tidak mengganggu janin, tetapi membutuhkan pengawasan khusus. Kista ini akan mengecil atau hilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.
· Kista dermoid.
Kista ini mengandung organ manusia dalam bentuk sel embrionik sebagai cikal bakal manusia, sehingga tak heran jika diangkat ditemukan rambut, gigi, lemak dan tulang.
· Kista endometriosis
Yang berhubungan dengan nyeri haid. Kista ini disebut juga kista coklat, karena di dalamnya ada cairan berwarna coklat kehitaman berasal dari darah yang mengental dan membeku.
· Kista adenoma
Kista yang berasal dari lapisan indung telur dan berpotensi untuk ganas. Sekali lagi, karena kista ovarium gejalanya sering kali tidak disadari, maka sangat disarankan bagi setiap wanita untuk secara rutin melakukan pemeriksaan ginekologi.
2.5 Gejala-gejala
· Nyeri saat menjelang haid (1 hari sebelum haid) sampai dihari-hari pertama haid datang, kadang rasa nyeri disertai keluarnya keringat dingin bahkan serasa mau pingsan
· Menstruasi yang datang terlambat, tidak teratur dan disertai rasa nyeri
· Perut terasa penuh dan tertekan
· Nyeri yang tajam pada perut bagian bawah
· Gangguan fertilitas atau kesuburan.
· Rasa sakit pada saat berhubungan seksual
· Gejala Hirsutisme, yaitu tumbuhnya rambut seperti di wajah, kaki, perut.
2.6 Diagnosis
a. Anamnesis
- Nyeri saat haid
- Perdarahan setelah senggama
- Infertilitas
b. Pemeriksaan Fisik
Palpasi à Ovarium mula-mula dapat diraba sebagai tumor kecil, akan tetapi bisa membesar sampai sebesar tinju. Tumor ovarium seringkali terdapat bilateral dan sukar digerakan
c. Labolatorium
Tidak memberikan tanda yang khas, hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid dapat menjadi petunjuk tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung kencing
d. Rontgenologis
Memasukan barium dalam kolom untuk memberi dgambaran dengan filling defect pada recto sigmoid dengan batas-batas yang jelas dan mukosa yang utuh.
e. USG
Terlihat masa pada daerah ovarium
f. Biopsi
Endometriosis yang ditemukan pad lokasi seperti forniks posterior, perineum, parut laparotomi, dan sebagainya.


2.7 Komplikasi
· Kista menjadi ganas
· Kista terpuntir akan menimbulkan rasa sakit yang sangat dan memerlukan tindakan darurat
· Kesulitan hamil karena adanya jaringan endometrium diluar rahim, semisal disaluran tuba kan mengakibatkan saluran tersebut lengket dan menghalangi bertemunya sperma dan ovum, sehingga terjadi infertilitas atau susah mendapat keturunan.
2.8 Penanganan
1. Pencegahan
a. Perkawinan jangan ditunda terlalu lama dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapatkan anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama
b. Jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid, oleh karena hal itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan kerongga panggul
2. Pengawasan
a. Kista banyak terjadi pada wanita Kista banyak terjadi pada wanita di usia subur atau reproduksi dan biasanya dapat mengecil atau hilang dengan sendirinya setelah wanita memasuki masa menopause, karena menurunnya aktivitas indung telur.
b. Pada wanita yang ingin mempunyai anak, jika telah ditunggu 1 tahun tidak terjadi kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan terhadap infertilitas dan diambil sikap yang lebih efektif.
3. Pengobatan Hormonal
· Androgen
- Metilestosteron sublingual denagn dosis 5-10 mg/hari
- 10 mg/hari pada bulan pertama dilanjutkan dengan 5 mg/hari
· Hormon GnRH analog yang diberikan selama 6 bulan, bukan tiga bulan. Cara kerja GnRH adalah menekan hormon diotak yang memberi perintah kepada indung telur untuk bereproduksi
· Estrogen progesteron
Kadar estrogen yang rendah menyebabkan atrofi jaringan endometriosis, keadaan yang asiklik mencegah terjadinya haid, yang berarti tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang normal maupun jaringan endometriosis. Dengan demikian dapat dihindari timbulnya sarang endometrium yang baru karena transpor regard jaringan endometriosis yang menimbulkan rasa nyeri karena ransangan peritoneum.
4. Pembedahan
a. Pembedahan harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
· Fungsi ovarim akan dipertahankan atau dihentikan, pada endometriosis yang dini, endonetriosis yang tidak memberikan gejala dan pada wanita muda yang masih ingin punya anak, fungsi ovarium dipertahankan. Apabila kista endometriosis/ kista coklat telah mengadakan penyerbuan yang luas dalam pelvis, khususnya pada usia lanjut dilakukan penghentian fungsi ovarium.
· Pengobatan konservatif
- Endometriosis umumnya menjalar lambat dan memerlukan waktu bertahun-tahun.
- Endometriosis bukanlah penyakit ganas dan jarang sekali menjadi ganas
- Endometriosis mengalami regresi pada waktu menopause
b. Pada kista coklat ovarium hendaknya tidak semuanya diangkat, tetapi ditinggalkan sebagian dari ovarium yang kiranya masih sehat.
c. Kisner menganjurkan untuk melakukan apendektomi oleh karena tidak jarang sarang-sarang endometriosis terdapat pada serosa apendik
d. Pembedahan konservatif dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan
· Laparatomi
· Laparaskopi operatif
Metode laparaskopi merupakan metode terkini dengan teknik pembedahan atau operasi dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 mm) disekitar perut pasien. Satu lubang pada pusat digunakan untuk memasukan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lobang yang lain untuk peralatan bedah yang lain. Teknik ini juga disebut teknik operasi minimal (Minimal Invasif Surgery).
Laparoskopi operatif mempunyai beberapa keuntungan jika di-bandingkan dengan laparatomi:
- Lama tinggal dirumah sakit lebih pendek
- Kembalinya aktivitas kerja lebih cepat
- Biaya perawatan lebih murah
d. Pembedahan radikal dilakukan pada wanita dengan kista soklat yang umurnya hampir 40 tahun atau lebih, dan yang menderita penyakit yang luas disertai dengan banyak keluhan. Operasi yang paling radikal ialah histerektomi total, salpingo-ooforektomi bilateral, dan pengakatan semua sarang-sarang endometriosis yang ditemukan
5. Pengobatan dengan radiasi
Pengobatan ini bertujuan untuk menghentikan fungsi ovarium tidak dilakukan lagi, kecuali jika ada kontraindikasi terhadap pembedahan.
2.9 Prognosis
  • Kista endometriosis sebenarnya salah satu jenis kista yang tidak ganas dan bukan merupakan tumor sejati. Akan tetapi, kista ini menyebalkan karena kerap kambuh dan dapat mengganggu kesuburan perempuan.
  • Meskipun belum diketahui persis faktor penyebab kekambuhan, dicurigai pengobatan yang tidak tuntas setelah pengambilan kista jadi pemicunya.
BAB III
TINJAUAN KASUS
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “E”
POST LAPAROTOMI DAN KISTEKTOMI
DI RUANG RAWAT GYNEKOLOGI
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
TGL 14-15 OKTOBER 2008
I. Pengkajian
A. Identitas/ Biodata
Nama Ibu : Ny. E
Umur : 27 tahun
Suku/bangsa : Minang/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat rumah : Jl. Andalas no.37 Padang
No. MR : 611789
Nama suami : Tn. D
Umur : 30 tahun
Suku/ bangsa : Minang/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : PNS
Alamat rumah : Jl. Andalas no.37 Padang
B. Anamnesa
Pasien masuk tanggal :14 Oktober 2008
Pukul : 10.30 wib
1. Keluhan waktu masuk: Sakit perut bagian bawah
2. Riwayat Penyakit sekarang:
Pasien sudah dilakukan laparatomi dan kisterktomi pada tanggal 13 Oktober 2008
3. Riwayat Penyakit terdahulu :
· Klien tidak pernah menderita penyakit jantung, ginjal, paru-paru, hati, DM, hipertensi dan ginjal
4. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga klien tidak pernah menderita penyakit yang sama
5. Riwayat persalinan
Klien pernah hamil 1 kali dan melahirakan anak perempuan dengan BB 2700 gram PB 50 cm
C. Pola aktivitas sehari-hari
1. Nutrisi
· Dirumah : (3 x sehari) 1 piring nasi + 1 potong lauk ukuran sedang + 1 mangkuk kecil sayur + buah
· Di RS: (3 x sehari) 1 piring nasi + 1 potong lauk ukuran sedang + 1 mangkuk kecil sayur + buah
2. Eliminasi
· BAK
- Frekuensi : 6-7 kali sehari
- Warna : Kuning jernih
- Keluhan : Tidak ada
· BAB
- Frekuensi : 1-2 kali sehari
- Warna : Warna
- Konsistensi : Lunak
- Keluhan : Tidak ada
3. Pola Istirahat
· Sehat : 6-7 jam/hari
· Sakit : 14-15 jam/hari
D. Data Objektif
1. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Vital
· TD : 110/70 mmHg
· Nadi : 90 x/i
· Pernafasan : 20 x/i
· Suhu : 36,5 ˚C
b. Kepala
· Rambut : Bersih, tidak ada ketombe
· Mata : Tidak oedema, tidak ikterik, conjungtiva tidak anemis
· Muka : Tidak oedema
· Mulut : Tidak ada stomatitis
· Gigi : Tidak ada caries
b. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar lymp dan thyroid
c. Dada : Bersih
d. Abdomen
· Inspeksi : perut tampak luka bekas operasi
· Palpasi : ada nyeri tekan
· Auskultasi : Bising usus ada
e. Genitalia : Tidak ada laserasi
f. Ekstremitas
· Atas
- Oedema : tidak ada
- Sianosis ujung jari: tidak ada
- Pergerakan: tidak ada
· Bawah
- Oedema : tidak ada
- Varices : tidak ada
- Pergerakan: normal
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan labolatorium
· HB : 11,6 gr%
· Trombosit : 205 /mm3
· Hematokrit : 35/mm3
· Leukosit : 11.700 /mm3
b. Hasil PA
· Makro
Kista dengan ukuran 8x5x3 cm dinding tebal 1 rongga
· Mikro
Dalam sediaan tampak dinding kista terdiri dari jaringan fibriokolagen mengandung kapiler-kapiler permukaan endotelial leucocyte, tampak tidak ganas

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “E” POST LAPAROTOMI DAN KISTEKTOMI
DI RUANG RAWAT GYNEKOLOGI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
TGL 14-15 OKTOBER 2008
DATA
INTERPRETASI
DATA
ANTISIPASI MASALAH/ MASALAH POTENSIAL
TINDAKAN SEGERA
PERNCANAAN
PELAKSANAAN
EVALUASI
Pasien datang tanggal 14 Oktober 2008
Pukul : 10.30 wib
DS :
- Ibu mengatakan telah dioperasi pada tanggal 12 oktober 2008
- Ibu mengatakan nyeri pada daerah operasi
- Ibu mengatakan pernah pernah melahirkan 1x dan anak meninggal setelah berumur 1 bulan.
- Ibu mengatakan telah ditransfusi darah sebanyak 2 kantong pada tanggal 13-10-2008
DO :
1. TTV
- TD: 110/70 mg
- N :90x/i
- P: 20x/i
- S: 36,5˚C
2. Inspeksi
- pada perut tampak bekas luka operasi
3. Palpasi
- Ada nyeri tekan
4. Pemeriksaan Penunjang
Ø Pemeriksanan laboratorium :
- Hb : 11,5 gr/%
- Lekosit : 11.700 mm3
- Trombosit : 205.000 mm3
- Hematokrit : 35 %
Ø Hasil PA
- Makro: kista 8x5x3 cm dinding tebal 1 rongga
- Mikro dalam sediaan tampak dinding kista terdiri dari jaringan fibrioklagen mengandung kapiler-kapiler, permukaan dilapisi epitel thorax rendah
Tanggal: 15 oktober 2008
Pukul : 10.00 wib
DS:
- Ibu mengatakan nyeri sedikit berkurang
DO:
1. TTV
- TD: 110/80 mg
- N :84x/i
- P: 20x/i
- S: 36,5˚C
2. Infus RL masih terpasang 20 tetes/i
3. Cateter masih terpasang
Diagnosa :
Ibu dengan post laparotomi dan kistektomi. KU ibu baik
Dasar:
1. Berdasarkan hasil PA Makro: kista 8x5x3 cm dinding tebal 1 rongga
Mikro:dalam sediaan tampak dinding kista terdiri dari jaringan fibrioklagen mengandung kapiler-kapiler, permukaan dilapisi epitel thorax rendah
2. TTV
- TD: 110/70 mg
- N :90x/i
- P: 20x/i
- S: 36,5˚C
- HB:11,6 gr%
Dx:
Ibu dengan post laparotomi dan kistektomi, KU ibu baik
Dasar:
1. Berdasarkan hasil PA Makro: kista 8x5x3 cm dinding tebal 1 rongga
Mikro:dalam sediaan tampak dinding kista terdiri dari jaringan fibrioklagen mengandung kapiler-kapiler, permukaan dilapisi epitel thorax rendah
2. TTV
- TD: 110/80 mg
- N :84x/i
- P: 20x/i
- S: 36,5˚C
Tidak ada
Tidak ada
Saat ini belum diperlukan
Saat ini belum diperlukan
1.informasikan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
2. Jelaskan penyebab nyeri yang dirasakan oleh ibu
3. Ajarkan ibu cara mengurangi rasa sakit atau nyeri yang dialaminya
4. Beri dukungan psikologis
5. Berikan obat-obatan sesuai advis dokter
6. Kontrol tetesan infus dan jumlah urine
1.informasikan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
2. Buka infus dan kateter
3. Lakukan penggantian perban
4. Anjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
-TD : 110/70mmHg
- N : 90 x/i
- P : 20 x/i
- S : 36,5 o C
- HB: 11,6 gr%
- KU ibu baik
2.Menjelaskan penyebab nyeri yang dirasakan oleh ibu karena luka bekas pengangkatan kista dan penjahitanya
3. mengajarkan ibu cara mengurangi rasa sakit atau nyeri yang dialaminya dengan menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan perlahan melalui mulut, sebanyak 8 kali
4. Memberi dukungan psikologis pada ibu dengan menyarankan ibu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan
5. Memberikan obat-obatan sesuai advis dokter
- ceftriaxone 2x1
- Metronidazol 3x1
6. Mengontrol tetesan infus dan jumlah urine
- infus RL 20 tetes/I ditangan kiri
- cateter terpasang jumlah urine + 250cc
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
-TD : 110/80mmHg
- N : 84 x/i
- P : 20 x/i
- S : 36,5 o C
- KU ibu baik
2.Membuka infus dan kateter ibu
· Membuka infus
- Menstop infus
- Membuka plester dengan alkohol
- Tekan daerah bekas infus terpasang dan beri kapas Alkohol dan plester
· Membuka cateter
- Memakai Handscoon
- Mengambil cairan dalam balon kateter sebanyak 10 vv dengan spuit 10 cc
- Menyuruh ibu untuk menarik nafas dalam
- Mengeluarkan cateter dengan pelan-pelan
3. Melakukan penghentian perban dan memantau keadaan lika post laparotomi dan kistektomi
- Membuka perban lama dan membersihkan daerah luka dengan menggunakan betadine
-Tekan daerah sekitar luka dan lihat tanda-tanda infeksi, seperti keluar nanah, berbau busuk, dan perdarahan
4. Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi dengan menggerakkan kaki dan tungkai bawah
1. ibu dan keluarga paham dengan penjelasan yang diberikan.
2. ibu paham dengan penjelasan yang diberikan.
3. Ibu mengerti dan telah mengerjakan cara yang dianjurkan
4. ibu tampak lebih tenang
5. Obat-obatan telah diberikan.
6. Infus RL masih terpasang ditangan kiri dengan 20 tetes/i, jumlah urine
+ 250cc
1. ibu dan keluarga paham dengan penjelasan yang diberikan.
2. infus dan kateter telah dilepaskan pukul 11 pagi
3. Perban ibu sudah diganti dan keadaan luka ibu baik, tidak ada tanda-tanda infeksi
4. ibu mau melakukan saran yang diberikan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kista cokelat atau endometoma merupakan kista yang biasanya terdapat diovarium, tampak kista biru-biru kecil sampai kista besar,kadang-kadang sebasar tinju berisi darah tua menyerupai cokelat. Penyebab kista cokelat ini belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori yang mengatakan karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis,sehingga terkumpul air, darah, nanah, atau cairan cokelat kental seperti darah menstruasi. Wanita yang mempunyai riwayat keluarga kanker hidung telur dan kanker payudara juga mempunyai resiko mengidap kista cokelat.
Tanda dan gejala dari kista cokelat tidak khusus, sehingga sulit untuk menentukannya. Diantaranya nyeri saat menjelang haid, menstruasi yang datang terlambat. nyeri yang tajam pada perut bagian bawah, gangguan fertilisasi kesuburan. Serta rasa sakit saat berhubungan seksual
Panaganan kista coklat ada beberapa cara diantaranya:
1. Pencegahan
· Jangan menunda usia perkawinan terlalu lama
· Jangan melakukan kerokan pada waktu haid
2. Pengawasan
Pada wanita yang ingin punya anak, tunggu 1 tahun lalu lakukan pemeriksaan infertilitas
3. Pengobatan hormonal
4. Pembedahan
5. Pengobatan Radiasi
4.2 Saran
· Bila ditemukan tanda dan gejala kista coklat, seperti nyeri saat menjelang haid yang hebat, menstruasi yang datang terlambat, nyeri yang tajam pada perut pada bagian bawah, gangguan infertilitas dan kesuburan, maka segeralah untuk memeriksakan diri ke rumah sakit
· Jangan menunda usia perkawinan terlalu lama
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1988. “Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan, dan KB
Untuk Pendidikan Bidan”. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. “Ilmu kandungan”. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sastrawinat, Sulaiman.1981. “Ginekologi”. Bandung: Elstar Offset
www. Kespro.com
www. Kesehatan Remaja.com
http://www.askep-askeb-kita.blogspot.com/iklan

0 komentar:

Poskan Komentar

ARTIKEL TERKAIT (SILAHKAN KLIK):