IKLAN

IKLAN
Tampilkan postingan dengan label Neonatus dan Bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Neonatus dan Bayi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Januari 2010

Pemeriksaan Antropometri

iklan

Pemeriksaan Antropometri
Antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri dilakukan pada anak-anak untuk menilai tumbuh kembang anak sehingga dapat ditentukan apakah tumbuh kembang anak berjalan normal atau tidak. Ketepatan dan ketelitian pengukuran sangat penting dalam menilai pertumbuhan secara benar. Kesalahan atau kelalaian dalam cara pengukuran akan mempengaruhi hasil pengamatan. Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut :
A. Pengukuran Berat Badan
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat timbangan
yang harus ditera secara berkala. Jenis alat timbangan sesuai dengan umur anak.

B. Pengukuran tinggi badan
Pada anak dibawah usia lima tahun dilakukan secara berbaring .Pengukuran dilakukan dari telapak kaki sampai ujung puncak kepala. Jika pengukuran dilakukan saat berdiri maka posisi anak harus berdiri tegak lurus, sehingga tumit, bokong dan bagian atas punggung terletak pada dalam 1 garis vertical, sedangkan liang telinga dan bagian bawah orbita membentuk satu garis horizontal.
C. Pengukuran lingkar kepala
Pengukuran ini terutama dilakukan pada bayi sampai umur 3 tahun. Pada anak lebih dari 3 tahun bukan mnerupakan pemeriksan yang rutin. Pita ukur diletakkan pada oksiput melingkar ke arah supraorbita dan glabela.
D. Pengukuran lingkar dada
Dilakukan pada bayi/anak dalam keadaan bernafas biasa dengan titik ukur pada areola mammae.
E. Pengukuran lingkar perut
Pengukuran dimulai dari umbilicus melingkar kearah punggung sehingga membentuk bidang yang tegak lurus pada poros tubuh bayi/anak


http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Pemeriksaan Antropometri
iklan

Selasa, 26 Januari 2010

Bounding Attachment

iklan
Pengertian Bounding Attachment

  • Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.

  • Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.

  • Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.

  • Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara individu.

  • Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.

  • Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.

  • Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.

  • Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.

  • Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.

  • Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.


  • Tahap-Tahap Bounding Attachment



    1. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.

    2. Bounding (keterikatan)

    3. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.


    Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.


    Elemen-Elemen Bounding Attachment



    1. Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.

    2. Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).

    3. Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.

    4. Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).

    5. Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.

    6. Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.

    7. Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak.

    http://askep-askeb.cz.cc/

    Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :



    1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.

    2. Reflek menghisap dilakukan dini.

    3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.

    4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).


    Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment



    1. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).

    2. Sentuhan orang tua pertama kali.

    3. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.

    4. Kesehatan emosional orang tua.

    5. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.

    6. Persiapan PNC sebelumnya.

    7. Adaptasi.

    8. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.

    9. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.

    10. Fasilitas untuk kontak lebih lama.

    11. Penekanan pada hal-hal positif.

    12. Perawat maternitas khusus (bidan).

    13. Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.

    14. Informasi bertahap mengenai bounding attachment.


    Keuntungan Bounding Attachment



    1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.

    2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.


    Hambatan Bounding Attachment



    1. Kurangnya support sistem.

    2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).

    3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).

    4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.


    Referensi

    Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 63-65)

    Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 54-55). books.google.co.id/books?id=ZkPup-5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=….

    Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.

    Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 64-66).

    Telli, L. Bounding Attachment. Diunduh 15 Januari 2010, 10:15 PM. akbidypsdmi.net/download/pdf/asuhan26.pdf

    http://askep-askeb.cz.cc/
    lihat artikel selengkapnya - Bounding Attachment
    iklan

    Minggu, 24 Januari 2010

    TETANUS dan TETANUS NEONATORUM

    iklan
    TETANUS dan TETANUS NEONATORUM
    Tetanus
    Definisi
    Penyakit infeksi dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.

    Etiologi
    Disebabkan eksotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman, yang menghambat neurotransmitter pada sinaps ganglion sambungan sum-sum tulang belakang dengan neuromuskuler (neuromuskuler junction) dan saraf otonom.
    Etiologi
    Clostridium Tetanii :
    Kuman berbentuk batang
    Gram positif
    Berspora dengan ujung berbentuk genderang
    Obligant anaerob dan menghasilkan eksotoksin
    Etiologi
    Tempat Masuk kuman/spora melalui :
    Luka tusuk
    Patah tulang
    Gigitan binatang
    Luka bakar luas
    Luka operasi
    Luka gigi
    Pemotongan tali pusat tidak steril
    Patogenesis
    Spora masuk lewat luka ke dalam tubuh,
    Pada lingkungan anaerobik akan berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif serta menghasilkan eksotoksin yang menyebar lewat motor endplate dan aksis silindris saraf tepi ke kornu anterior sum-sum tulang belakang,
    Menyebar ke seluruh saraf pusat.
    Patogenesis
    Toksin tersebut akan menimbulkan gangguan, enzim kolinesterase tidak aktif sehingga kadar asetilkolin menjadi tinggi dan blokade pada sinaps yang terkena, mengakibatkan tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan.


    Laboratorium

    Tak ada yang spesifik, biakan kuman memerlukan prosedur khusus untuk kuman anaerobik dan mahal.
    Gejala Klinis
    Masa inkubasi 5 - 14 hari, terpendek 2 hari.
    Demam ringan dengan gejala lain :
    Trismus, risus sardonikus, opistotonus, otot dinding perut kaku seperti papan, kejang dan gangguan saraf otonom.
    Gangguan irama jantung, suhu meningkat, berkeringat, kekakuan otot sfingter dan otot polos sehingga terjadi retensio urine, spasme laring dan gangguan otot pernafasan.

    Gejala Klinis
    Secara praktis Tetanus dapat dibagi menjadi :
    1. Tetanus ringan
    Trismus tanpa rangsang kejang.
    2. Tetanus sedang
    Kaku, tanpa kejang spontan, rangsang kejang positif.
    3. Tetanus berat
    Kaku, kejang spontan, rangsang kejang positif.


    Komplikasi
    Pada neonatus sering terjadi sepsis.
    Pada anak sering terjadi :
    Bronkopneumonia
    Kekakuan otot laring dan pernafasan
    Aspirasi
    Fraktur kompresi
    Prognosis
    Tergantung pada :
    Umur penderita
    Masa inkubasi
    Onset penyakit
    Berat ringannya tetanus
    Kecepatan pemberian ATS

    Pencegahan

    Perawatan luka, terutama luka kotor dan dalam
    ATS profilaksis
    Perawatan tali pusat (kebersihan persalinan)
    Imunisasi aktif
    Diagnosis

    Berdasarkan Gejala klinis dan
    Anamnesis yang teliti.
    Diagnosis Banding
    Bisa dengan :
    Meningitis
    Meningoensefalitis
    Ensefalitis
    Keracunan striknin
    Rabies
    Abses tonsilar
    Mastoiditis
    Penatalaksanaan
    Umum
    Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi
    Menjaga saluran nafas tetap bebas
    Mengatasi kejang
    Penatalaksanaan
    Mengatasi Kejang :
    Diazepam 0,1 – 0,3 mg/KgBB/kali tiap 2-4 jam IV (IntraVena) atau rectal.
    Bila kejang berhenti dilanjutkan dengan dosis rumatan.
    Bila klinis membaik dosis dipertahankan 3-5 hari kemudian.
    Bila kejang tidak berhenti pertimbangkan dirawat di ICU.
    Penatalaksanaan
    … Mengatasi Kejang

    Tetanus Berat
    Diazepam 20 mg/KgBB/hari drip infus IV perlahan, dan dirawat di ICU.
    Dosis pemeliharaan 8 mg/KgBB/hari, oral dibagi 6-8 dosis.
    Penatalaksanaan
    … Mengatasi Kejang

    Perawatan luka dengan perhidrol 3% atau rivanol, perawatan tali pusat dengan steril, konsul gigi atau THT jika dicurigai sebagai tempat masuk.
    Penatalaksanaan
    Khusus
    Antibiotik :
    PP (Penicillin Prokain) 50 U/KgBB/hari IM tiap 12 jam selama 7-10 hari, atau
    Ampicillin 150 mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis.
    Penatalaksanaan
    … Khusus

    Metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB tiap 6 jam, atau
    Eritromisin 50 mg/KgBB/hari per oral dibagi 4 dosis.

    Penatalaksanaan
    … Khusus

    Antiserum (ATS) 50.000 – 100.000 unit, separoh IV dan separohnya IM, didahului skin test.
    Apabila tersedia Human Tetanus Imunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU, IM dapat diberikan.

    Tetanus Neonatorum
    Definisi

    Penyakit yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan oleh kuman “Clostridium Tetanii”, yang masuk melalui luka tali pusat atau tempat lainnya karena tindakan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
    Dasar Diagnosis
    Bayi tiba-tiba panas dan tidak mau atau tidak dapat menetek lagi (trismus).
    Sebelumnya bayi menetek biasa.
    Mulut mencucu seperti mulut ikan (kapermond), mudah sekali dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus.
    Pengobatan
    IVFD D5% + NaCl fisiologis (4 : 1) selama 48 – 72 jam sesuai dengan kebutuhan, selanjutnya IVFD untuk memasukkan obat.
    Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit.
    Dosis rumatan 8-10 mg/KgBB/hari melalui IVFD (Diazepam dimasukkan dalam cairan IV dan diganti tiap 6 jam).
    Pengobatan
    … Diazepam dosis awal …

    Bila kejang masih timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara IV perlahan-lahan dan dalam 24 jam boleh diberikan tambahan diazepam 5 mg/KgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhan menjadi 15 mg/KgBB/hari.
    Setelah klinis membaik, diazepam diberikan per oral dan diturunkan secara bertahap.
    Pengobatan
    ATS 10.000 UI/hari dan diberikan selama 2 hari berturut-turut.
    Ampicillin 100 mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis secara IV selama 10 hari.
    Tali pusat dibersihkan dengan alkohol 70% atau betadine.
    Pengobatan
    Perhatikan jalan nafas, diuresis dan keadaan vital lainnya.
    Bila banyak lendir jalan nafas dibersihkan dan perlu diberikan oksigen.

    Pencegahan

    Ibu hamil harus mendapat imunisasi TT (Tetanus Toxoid).
    Diagnosa Keperawatan
    Risiko terjadi cedera fisik b.d serangan kejang berulang.
    Risiko jalan nafas tidak efektif b.d sekunder dari depresi pernafasan.
    Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi sekret yang berlebih pada jalan nafas.
    Diagnosa Keperawatan
    Kurang pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya b.d keterbatasan informasi.
    Peningkatan suhu tubuh b.d reaksi eksotoksin.

    Sumber : Materi Kuliah Keperawatan Anak
    STIKes Muhammaadiyah Banjarmasin 2009
    dosen : Kamilah F Mustika, S.Kep.Ners
    http://askep-askeb.cz.cc/

    lihat artikel selengkapnya - TETANUS dan TETANUS NEONATORUM
    iklan

    ASKEP NEONATUS dengan RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)

    iklan
    ASKEP NEONATUS dengan RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)
    Latar Belakang
    Penyakit saluran pernapasan adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang paling sering pada anak terutama pada bayi, dikarenakan :
    Saluran pernafasan yang masih sempit
    Daya tahan tubuh yang masih rendah
    Latar Belakang
    Gangguan pernafasan pada bayi dan anak dapat disebabkan :
    Kelainan organik
    Trauma
    Alergi
    Infeksi
    dan lain-lain
    Latar Belakang
    Gangguan pernapasan dapat terjadi sejak bayi baru lahir (BBL), yang paling sering ditemukan :
    Respiratory Distress Syndrome (RDS), atau
    Idiopatic Respiratory Distress Syndrome (IRDS) yang terdapat pada bayi premature.
    Definisi
    RDS adalah perkembangan yang immature pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru.
    RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disease.
    (Suryadi dan Yuliani, 2001)
    Definisi
    RDS adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnea (>60 x/menit), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. (Stark, 1986)
    Definisi
    Sindrom gawat nafas pada neonatus (SGNN) atau respiratory distress syndrome (RDS), merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperapnea.

    Etiologi
    RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi surfaktan.
    Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
    RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur.
    Sindrom ini dapat terjadi karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan penyebab sindrom ini.
    Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah :
    Pneumothoraks/pneumomediastinum
    Penyakit membran hialin (PMH)
    Pneumonia
    Aspirasi

    Fisiologi
    Penilaian keadaan pernafasan dapat dilakukan dengan mengamati gerakan dada dan atau perut.
    Neonatus normal biasanya mempunyai pola pernafasan abdominal.
    Bila anak sudah dapat berjalan pernafasannya menjadi thorakoabdominal.
    Pola pernafasan normal adalah teratur dengan waktu ekspirasi lebih panjang daripada waktu inspirasi, karena pada inspirasi otot pernafasan bekerja aktif, sedangkan pada waktu ekspirasi otot pernapasan bekerja secara pasif.

    Patofisiologi
    Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan.
    Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II.
    Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35.
    Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%).
    Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi dan kehamilan kembar.
    Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi.
    Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. i
    Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
    Oksigenasi jaringan menurun  metabolisme anaerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic  asidosis metabolic.
    Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris  transudasi kedalam alveoli  terbentuk fibrin  fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik lapisan membrane hialin.
    Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran darah ke paru, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis.
    Manifestasi Klinis
    Takipnea (>60 x/menit)
    Retraksi dada
    Sianosis pada udara kamar
    X-ray thorak spesifik
    yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan.

    Manifestasi Klinis
    Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA. (Stark, 1986)
    Syndrom ini berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi di membran kapiler alveolar.
    Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial yang dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan, akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis.
    Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru.
    Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak, oleh karena itu mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.

    Diagnosa Keperawatan
    Gangguan pola nafas b.d belum terbentuknya zat surfaktan dalam tubuh.
    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
    Resiko tinggi gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d seringnya BAB dan BAK.
    Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
    Kecemasan orangtua b.d kurang pengetahuan orangtua tentang kondisi bayi.
    Rencana Keperawatan
    Gangguan pola nafas b.d belum terbentuknya zat surfaktan dalam tubuh.
    Ditandai dengan :
    RR 78 x/menit
    Retraksi dinding dada (+)
    Retraksi dinding efigastrium (+)
    Bayi tampak lemah
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan pola nafas dapat teratasi. Kriteria Evaluasi :
    RR 60 x/menit
    Sesak (-)
    Sianosis (-)
    Retraksi dinding dada (-)
    Reaksi diafragma (-)
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Intervensi dan Rasional :
    Observasi pola nafas
    R : Mengetahui frekuensi nafas
    Observasi TTV
    R : Mengetahui keadaan umum bayi
    Monitor SPO2
    R : Mengetahui kadar O2 dalam darah
    Atur posisi semi ekstensi
    R : Memudahkan paru-paru mengembang saat ekspansi
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Intervensi dan Rasional :
    Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
    R : Mempertahankan suhu tubuh
    Atur suhu dalam inkubator
    R : Membantu memenuhi suplai O2
    Berikan terapy O2 sesuai dengan kebutuhan
    R : Membantu kemudahan dalam bernafas
    Kolaborasi pemberian terapy obat Bronchodilator
    R : Obat Bronchodilator berfungsi untuk membuka broncus guna memudahkan dalam pertukaran udara
    Rencana Keperawatan
    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
    Ditandai dengan :
    Reflek hisap lemah
    Retensi lambung 0,5 cc
    Bising usus 4x/menit
    Bayi tampak lemah
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.

    Kriteria Evaluasi :
    Reflek hisap (+)
    Retensi lambung (-)
    Bising usus 8x/menit
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Intervensi dan Rasional :
    Pertahankan pemberian cairan melalui IVFD, Glukosa 10%
    R : Mempertahankan kebutuhan cairan dalam tubuh
    Kaji kesiapan bayi untuk minum
    R : Mengetahui reflek hirup
    Retensi cairan lambung
    R : Mengetahui cairan lambung dan konsistensinya
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Intervensi dan Rasional :
    Berikan minum sesuai jadwal
    R : Memberikan cairan tambahan melalui oral
    Timbang BB
    R : Mengetahui status nutrisi
    Rencana Keperawatan
    Resiko tinggi gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d seringnya BAB dan BAK.
    Ditandai dengan :
    Turgor kulit jelek
    Pada mukosa bibir terdapat keputihan
    Bayi sering BAK
    Bayi terpasang infus
    Rencana Keperawatan
    Dx.3

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan kebutuhan cairan tidak terjadi.

    Kriteria Evaluasi :
    Turgor kulit baik/elastis
    Mukosa bibir tak tampak keputihan
    Frekuansi BAK normal
    Rencana Keperawatan
    Dx.3

    Intervensi dan Rasional :
    Kaji turgor kulit
    R : Mengetahui tanda dehidrasi
    Pertahankan pemberian cairan IVFD
    R : Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
    Beri minum sesuai jadwal
    R : Mencegah terjadinya kekurangan cairan
    Pantau frekuensi BAB + BAK
    R : Mengetahui output tubuh
    Rencana Keperawatan
    Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
    Ditandai dengan :
    Suhu bayi 36,5 °C
    Bayi didalam inkubator dengan suhu 32 °C
    Bayi tidak menggunakan baju
    Rencana Keperawatan
    Dx.4

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal.

    Kriteria Evaluasi :
    Suhu 37 °C
    Bayi tidak kedinginan
    Rencana Keperawatan
    Dx.4

    Intervensi dan Rasional :
    Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
    R : Mencegah terjadinya hipotermi
    Atur suhu inkubator
    R : Menjaga kestabilan suhu tubuh
    Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
    R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi
    Rencana Keperawatan
    Kecemasan orangtua b.d kurang pengetahuan orangtua tentang kondisi bayi.
    Ditandai dengan :
    Ibu klien mengatakan kapan anaknya bisa pulang
    Ibu tampak cemas
    Ibu menangis
    Rencana Keperawatan
    Dx.5

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan cemas keluarga (orangtua) bayi berkurang.

    Kriteria Evaluasi :
    Ibu tidak menangis
    Mimik/verbal tidak cemas
    Rencana Keperawatan
    Dx.5

    Intervensi dan Rasional :
    Kaji tingkat kecemasan
    R : Mengetahui koping individu
    Berikan penjelasan tentang keadaan klien saat ini
    R : Meningkatkan pengetahuan orang tua
    Berikan kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan perasaan
    R : Membina hubungan saling percaya
    Anjurkan keluarga untuk tetap mengunjungi bayinya

    Sumber : Materi Kuliah Keperawatan Anak
    STIKes Muhammadiyah Banjarmasin 2009
    Dosen :Kamilah F Mustika, S.Kep.Ners

    http://askep-askeb.cz.cc/
    lihat artikel selengkapnya - ASKEP NEONATUS dengan RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)
    iklan

    Senin, 04 Januari 2010

    Perdarahan intrakranial pada neonatus

    iklan
    Perdarahan intrakranial pada neonatus:
    Perdarahan intrakranial pada neonatus (PIN) tidak jarang
    dijumpai. PIN mempunyai arti penting karena dapat menye-
    babkan kematian atau cacat jasmani dan mental
    1 . PIN ialah perdarahan dalam rongga kranium dan isinya pada bayi sejak
    lahir sampai umur 4 minggu. Sebabnya PIN banyak. Sering
    PIN tak dikenal/dipikirkan karena gejala gejalanya tidak khas.
    PIN meliputi perdarahan epidural, subdural, subaraknoid,
    intraserebral/parenkim dan intraventrikuler
    2 . Penatalaksanaan dan penanggulangan PIN masih kurang memuaskan. Untuk
    menurunkan angka kejadian PIN, usaha yang lebih penting
    ialah profilaksis seperti perawatan prenatal, pertolongan
    persalinan dan perawatan postnatal yang sebaik-baiknya. Pada
    umumnya prognosis PIN tidak terlalu menggembirakan.
    Makalah ini membahas sekedar insidensi, etiologi, patogene-
    sis, gambaran klinik, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis dan
    pencegahan PIN yang berkaitan dengan persalinan.

    INSIDENSI
    Dilaporkan angka berbeda-beda tentang insidensi PIN. Holt 3 menemukan pada otopsi bayi-bayi lahir mati dan yang meninggal dalam 2 minggu pertama, 30% PI. Menurut Saxena 4 13,1% kematian perinatal oleh PI. Angka kematian PI pada bayi prematur 5x lebih tinggi daripada bayi cukup bulan (BCB). Laki-laki : perempuan = 5 : 2,7 (Saxena), 1,9 : 1 (Banerjee) 4 , 6




    ETIOLOGI
    • Trauma kelahiran
    1. partus biasa.
    -- pemutaran/penarikan kepala yang berlebihan.
    -- disproporsi antara kepala anak dan jalan lahir sehingga terjadi mulase 6 .
    2. partus buatan (ekstraksi vakum, cunam).
    3. partus presipitatus.
    • Bukan trauma kelahiran:
    umumnya ditemukan pada bayi kurang bulan (BKB). Faktor dasar ialah prematuritas dan yang
    lain merupakan faktor pencetus PIN seperti hipoksia dan iskemia otak yang dapat timbul pada syok, infeksi intrauterin, asfiksia, kejang
    - kejang, kelainan jantung bawaan, hipotermi, juga hiperosmolaritas/hipernatremia 1,5,7
    Ada pula PIN yang disebabkan oleh penyakit perdarahan/gangguan pembekuan darah.


    PATOGENESIS
    Pada trauma kelahiran, perdarahan terjadi oleh kerusakan/ robekan pembuluh - pembuluh darah intrakranial secara langsung. Pada perdarahan yang bukan karena trauma kelahiran, faktor dasar ialah prematuritas; pada bayi-bayi tersebut, pembuluh darah otak masih embrional dengan dinding tipis, jaringan penunjang sangat kurang dan pada beberapa tempat
    tertentu jalannya berkelok kelok, kadang - kadang membentuk huruf U sehingga mudah sekali terjadi kerusakan bila ada faktor - faktor pencetus (hipoksia/iskemia). Keadaan ini ter- utama terjadi pada perdarahan intraventrikuler/periventrikuler.
    Perdarahan epidural/ ekstradural terjadi oleh robekan arteri atau vena meningika media antara tulang tengkorak dan duramater. Keadaan ini jarang ditemukan pada neonatus. Tetapi perdarahan subdural merupakan jenis PIN yang banyak dijumpai pada BCB. Di sini perdarahan terjadi akibat pecahnya vena-vena kortikal yang menghubungkan rongga subdural
    dengan sinus-sinus pada duramater. Perdarahan subdural lebih sering pada BCB daripada BKB
    sebab pada BKB vena-vena superfisial belum berkembang baik dan mulase tulang tengkorak sangat jarang terjadi 6 . Perdarahan dapat berlangsung perlahan-lahan dan membentuk hematoma subdural. Pada robekan tentorium serebeli atau vena galena dapat terjadi hematoma retroserebeler. Gejala-gejala dapat timbul segera dapat sampai berminggu-minggu, memberikan gejala - gejala kenaikan tekanan intrakranial. Dengan kemajuan dalam bidang obstetri, insidensi perdarahan subdural sudah sangat menurun. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 43

    Pada perdarahan subaraknoid, perdarahan terjadi di rongga subaraknoid yang biasanya ditemukan pada persalinan sulit. Adanya perdarahan subaraknoid dapat dibuktikan dengan
    fungsi likuor. Pada perdarahan intraserebral/intraserebeler, perdarahan terjadi dalam parenkim otak, jarang pada neonatus karena hanya terdapat pada trauma kepala yang sangat hebat (ke-
    celakaan) 8 .
    Perdarahan intraventrikuler dalam kepustakaan ada yang gabungkan bersama perdarahan intraserebral yang disebut perdarahan periventrikuler 7. Dari semua jenis PIN, perdarahan periventrikuler meme- gang peranan penting, karena frekuensi dan mortalitasnya tinggi pada bayi prematur. Sekitar 75--90% perdarahan peri ventrikuler berasal dari jaringan subependimal germinal matriks/jaringan embrional di sekitar ventrikel lateral.
    Pada perdarahan intraventrikuler, yang berperanan penting ialah hipoksia yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak dan kongesti vena. Bertambahnya aliran darah ini, meninggikan tekanan pembuluh darah otak yang diteruskan ke daerah anyaman kapiler sehingga mudah ruptur. Selain hipoksia, hiperosmolaritas pula dapat menyebabkan perdarahan
    intraventrikuler 1 Hiperosmolaritas antara lain terjadi karena hipernatremia akibat pemberian natrium bikarbonat yang berlebihan/plasma ekspander. Keadaan ini dapat meninggikantekanan darah otak yang diteruskan ke kapiler sehingga dapat pecah.

    GAMBARAN KLINIK
    Gejala-gejala PIN tidak khas, dan umumnya sukar didiagnosis jika tidak didukung, oleh riwayat persalinan yang jelas. Gejala-gejala berikut dapat ditemukan :
    • Fontanel tegang dan menonjol oleh kenaikan tekanan intrakranial, misalnya pada perdarahan subaraknoid.
    • Iritasi korteks serebri berupa kejang-kejang, irritable, twitching, opistotonus. Gejala-gejala ini baru timbul beberapa jam setelah lahir dan menunjukkan adanya perdarahan subdural , kadang-kadang juga perdarahan subaraknoid oleh robekan tentorium yang luas.
    • Mata terbuka dan hanya memandang ke satu arah tanpa reaksi. Pupil melebar, refleks cahaya lambat sampai negatif. Kadang-kadang ada perdarahan retina, nistagmus dan eksoftalmus.
    • Apnea: berat dan lamanya apnea bergantung pada derajat perdarahan dan kerusakan susunan saraf pusat. Apnea dapat berupa serangan diselingi pernapasan normal/takipnea dan sianosis intermiten.
    • Cephalic cry (menangis merintih).
    • Gejala gerakan lidah yang menjulur ke luar di sekitar bibir seperti lidah ular (snake like flicking of the tongue) menunjuk- kan perdarahan yang luas dengan kerusakan pada korteks 9.
    • Tonus otot lemah atau spastis umum. Hipotonia dapat berakhir dengan kematian bila perdarahan hebat dan luas. Jika perdarahan dan asfiksia tidak berlangsung lama, tonus otot akan segera pulih kembali. Tetapi bila perdarahan berlangsung lebih lama, flaksiditas akan berubah menjadi spastis yang menetap. Kelumpuhan lokal dapat terjadi misalnya kelumpuhan otot-otot pergerakan mata, otot-otot muka/anggota gerak (monoplegi/hemiplegi) menunjukkan perdarahan subdural/ parenkim. 44 Cermin Dunia Kedokteean No. 41, 1986
    • Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan ialah gangguan kesadaran (apati, somnolen, sopor atau koma), tidak mau minum, menangis lemah, nadi lambat/cepat, kadang-kadang ada hipotermi yang menetap. Apabila gejala-gejala tersebut di atas ditemukan pada bayi prematur yang 24--48 jam sebelumnya menderita asfiksia, maka PI dapat dipikirkan. Berdasarkan perjalanan klinik, PIN dapat dibedakan 2 sindrom 7:
    1. saltatory
    syndrome: gejala klinik dapat berlangsung berjam- jam/berhari-hari yang kemudian berangsur-angsur menjadi baik. Dapat serabuh sempurna tetapi biasanya dengan gejala sisa.
    2. catastrophic syndrome. gejala klinik makin lama makin berat, berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam dan akhirnya meninggal.

    LABORATORIUM
    • pemeriksaan likuor terutama untuk perdarahan subaraknoid dan intraventrikuler/periventrikuler. Tujuan fungsi lumbal pada PIN untuk diagnostik, sebagai pengobatan (mengurangi tekanan intrakranial) dan untuk mencegah komplikasi hidrosefalus (fungsi lumbal berulang-ulang). Pada pemeriksaan likuor dapat dijumpai tekanan yang meninggi, warna merah/santokrom, kadar protein meninggi, kadar glukose menurun. Bila
    cairan likuor berdarah, dianjurkan CT Scan untuk mengetahui lokalisasi dan luasnyaperdarahan. • pada pemeriksaan darah dapat ditemukan:
    -- tanda-tanda anemi posthemoragik
    -- analisa gas darah (0 2 dan CO 2 )
    --gangguan pembekuan darah terutama pada PIN yang non traumatik. Mc Donald dkk mendapat kadar rendah fibrinogen, trombosit, antitrombin III faktor VIII 10. Faktor-faktor ini
    menjadi normal bila keadaan bayi membaik.
    • Foto kepala tidak dapat menunjukkan adanya perdarahan, hanya fraktur yang sukar dibedakan dengan sutura, lipatan- lipatan kulit kepala dan mulase.
    • Pemeriksaan ultrasonografi banyak digunakan. Berdasarkan USG, Burstein dkk menentukan derajat perdarahan intraven- trikuler sebagai berikut l1 derajat 0 : tidak ada perdarahan intrakranial.
    derajat I : perdarahan hanya terbatas pada daerah sub- ependimal.
    derajat II : perdarahan intraventrikuler.
    derajat III : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel.
    derajat IV : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel
    dengan perluasan ke parenkim otak.
    Derajat I, II umumnya ringan, pada pemeriksaan ulangan 3--4 minggu kemudian biasanya tidak ditemukan kelainan lagi. Derajat III ,IV umumnya berprognosis buruk, bila tidak
    meninggal akan disertai komplikasi berat seperti hidrosefalus.
    • Dengan computerized tomography (CT Scan) semua jenis PIN dapat diketahui 12. Cara ini tidak secara rutin karena biayanya sangat mahal.

    DIAGNOSIS
    Diagnosis PIN sangat sukar, terutama bila tidak ada hubungan dengan trauma kelahiran karena gejala-gejalanya tidak khas. Khusus pada neonatus/BKB, sekitar 20% kasus dengan gejala- gejala yang diduga PIN, ternyata bukan. Oleh karena itu, PIN harus didiagnosis banding dengan beberapa penyakit pada neonatus yang memberikan gejala - gejala yang hampir sama, misalnya
    • Infeksi pada bayi baru lahir/neonatus yang dapat memberikan gejala - gejala kesukaran bernapas (apnea, takipnea, siano- sis), lemah (letargi), kejang - kejang, muntah dan lain-lain.
    Untuk membedakan dengan PIN yaitu riwayat persalinan seperti ketuban pecah dini, infeksi perinatal pada ibu, ketuban keruh/berbau. Yang agak khas pada infeksi ialah hepato splenomegali, ikterus, pneumoni 13. Selain itu lekositosis.
    • Tetanus neonatorum dengan kejang - kejang, dibedakan dengan PIN karena partus tetanus neonatorum umumnya oleh dukun. TN hampir selalu terjadi pada akhir minggu pertama,
    bayi mula-mula minum baik dan tiba-tiba sukar minum karena trismus dan gejala lain.
    • Penyakit metabolisme (hipoglikemi) yang dapat memberikan kejang letargi. Ibunya penderita DM dan perlu pemeriksaan kadar glukosa darah bayi.
    • Kecanduan obat dari ibu, antara lain bayi kejang - kejang akibat ketergantungan vitamin B6
    karena ibunya sebelumnya mendapat pengobatan vitamin B6 dosis tinggi. Dibedakan dengan PIN berdasarkan anamnesis dan pengobatan ex juvantibus pada bayi.
    • Kelainan kongetinal saraf pusat memberikan gejala kejang dan letargi. Biasanya disertai kelainan kongenital lain, fungsi lumbal pada PIN kadang-kadang ada perdarahan.
    • Respiratory distress of the newborn dengan apnea, sianosis, retraksi sternum dan kosta, merintih (expiratory grunting), bradikardi, hipotermi, kejang - kejang, hipotoni. Dibedakan
    dengan PIN yaitu gejala gangguan pernapasan dan riwayat persalinan (ibu toksemia, seksio sesar, perdarahan antepartum dan lain-lain).
    Lebih jelas, diagnosis PIN ditegakkan berdasarkan :
    • anamnesis: riwayat kehamilan, persalinan, prematuritas,
    keadaan bayi sesudah lahir dan gejala
    -
    gejala yang men-
    curigakan.
    • pemeriksaan fisik: adanya tanda-tanda PI, gejala
    -
    gejala
    nerologik, fraktur tulang kepala dan tanda-tanda peninggi-
    an tekanan intrakranial.
    • pemeriksaan laboratorium: likuor dan darah.
    • pemeriksaan penunjang: CT Scan USG dan foto kepala.
    PENATALAKSANAAN
    Diusahakan tindakan dibatasi untuk mencegah terjadinya
    kerusakan/kelainan yang lebih parah
    14
    .
    • Bayi dirawat dalam inkubator yang memudahkan observasi
    kontinu dan pemberian O
    2
    . Perlu diobservasi secara cermat:
    suhu tubuh, derajat kesadaran, besarnya dan reaksi pupil,
    aktivitas motorik, frekuensi pernapasan, frekuensi jantung
    (bradikardi/takikardi), denyut nadi dan diuresis. Diuresis kurang dari 1 ml/kgBB/jam berarti perfusi ke ginjal berkurang, diuresis lebih dari 1 ml/kgBB/jam menunjukkan fungsi ginjal
    baik 15
    • Menjaga jalan napas tetap bebas, apalagi kalau penderita dalam koma diberikan 02. Bayi letak dalam posisi miring untuk mencegah aspirasi serta penyumbatan larings oleh lidah dan kepala agak ditinggikan untuk mengurangi tekanan vena serebral.
    • Pemberian vitamin K serta transfusi darah dapat dipertim- bangkan.
    • Infus untuk pemberian elektrolit dan nutrisi yang adekuat berupa larutan glukosa (5--10%) dan NaCl 0,9% 4:1 atau glukosa 5--10%dan Nabik 1,5% 4:1.
    • Pemberian obat - obatan :
    -- valium/luminal bila ada kejang - kejang. dosis valium 0,3--0,5 mg/kgBB, tunggu 15 menit, kalau belum berhenti diulangi dosis yang sama; kalau berhenti diberikan luminal 10 mg/kgBB (neonatus 30 mg), 4 jam kemudian luminal per os 8 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis
    selama 2 hari, selanjutnya 4 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sambil perhatikan keadaan umum seterusnya.
    -- kortikosteroid berupa deksametason 0,5--1 mg/kgBB/24 jam yang mempunyai efek baik terhadap hipoksia dan edema otak.
    -- antibiotika dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder, terutama bila ada manipulasi yang berlebihan.
    • Fungsi lumbal untuk menurunkan tekanan intrakranial, mengeluarkan darah, mencegah terjadinya obstruksi aliran likuor dan mengurangi efek iritasi pada permukaan korteks.
    • Tindakan bedah darurat:
    Bila perdarahan/hematoma epidural walaupun jarang dilakukan explorative burrhole dan bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi, evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat 8. Pada perdarahan/hematoma subdural, tindakan explorative burrhole dilanjutkan dengan
    kraniotomi, pembukaan duramater, evakuasi hematoma dengan irigasi menggunakan cairan garam fisiologik. Pada perdarahan intraventrikuler karena sering terdapat obstruksi
    aliran likuor, dilakukan shunt antara ventrikel lateral dan atrium kanan.
    PROGNOSIS
    Karena kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. Mortalitas PIN non traumatik 50--70% 7.
    Prognosis PIN bergantung pada lokasi dan luasnya perdarahan, umur kehamilan, cepatnya didiagnosis dan pertolongan. Pada perdarahan epidural terjadi penekanan pada jaringan otak ke
    arah sisi yang berlawanan, dapat terjadi herniasi unkus dan kerusakan batang otak. Keadaan ini dapat fatal bila tidak men- dapat pertolongan segera. Pada penderita yang tidak meninggal, dapat disertai spastisitas, gangguan bicara atau strabismus. Kalau ada gangguan
    serebelum dapat terjadi ataksi serebeler. Perdarahan yang me- liputi batang otak pada
    bagian formasi retikuler, memberikan sindrom hiperaktivitet. Pada perdarahan subdural akibat trauma, menurut Rabe dkk, hanya 40% dapat sembuh sempurna setelah dilakukan fungsi subdural berulang-ulang atau tindakan bedah 16. Perdarahan subdural dengan hilangnya kesadaran yang lama, nadi cepat, pernapasan tidak teratur dan demam tinggi, mempunyai prognosis jelek. Pada perdarahan intraventrikuler, mortalitas bergantung pada derajat perdarahan 17. Pada derajat 1--2 (ringan-sedang), angka kematian 10--25%, sebagian besar sembuh sempurna, sebagian kecil dengan sekuele ringan. Pada derajat 3--4 (sedang-
    berat), mortalitas 50--70% dan sekitar 30% sembuh dengan sekuele berat. Sekuele dapat berupa cerebral palsy, gangguan bicara, epilepsi, retardasi mental dan hidrosefalus. Hidrosefalus merupakan komplikasi paling sering (44%) dari perdarahan periventrikuler 7. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 45

    PENCEGAHAN
    Untuk mengurangi terjadinya PIN, yang paling penting ialah pencegahan, yang meliputi pemeriksaan ibu-ibu hamil secara teratur, memberikan pertolongan dan perawatan yang sebaik
    - baiknya, baik waktu persalinan maupun sesudah anak lahir. Perhatian khusus harus diberikan kepada bayi-bayi prematur (BKB) yaitu mencegah episode asfiksia sebelum dan sesudah persalinan. Dalam hal ini perlu monitoring keadaan bayi intrapartum, resusitasi segera sesudah lahir dan mencegah kemungkinan hipoksia oleh sebab-sebab lain 18. Pemberian koagulans sebagai usaha untuk mencegah timbulnya PIN sampai saat ini belum ada persesuaian paham, tetapi pemberian vitamin K secara rutin pada BKB dapat dianjurkan.

    RINGKASAN
    Telah dilaporkan tinjauan kepustakaan perdarahan intra krakranial pada neonatus yang berkaitan dengan persalinan. Menurut etiologi dapat dibedakan PIN yang traumatik/trauma
    kelahiran dan non-traumatik. Berkat kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. PIN non-traumatik yang ditemukan pada BKB merupakan masalah pediatrik, baik menyangkut diagnosis maupun penatalaksanaan dan pencegahannya.

    KEPUSTAKAAN
    1. Roberton NRC and Howart P. Hypernatremia as a Cause of Intracranial Haemorrhage. Arch Dis Child. 1975; 50: 938-41.
    2. Menkes JH. Textbook of Child Neurology, 2nd ed. Philadelphia: Lea Febiger. 1980; pp 421-8.
    3. Holt LE, Mc Intosh R and Barnett HL. Paediatrics. 13th ed, Appleton-Century-Crofts, Inc. 1962; pp 1034-8.
    4. Saxena HMK, Mithilesh C, Santos KB and Gosh S. Intracranial Haemorrhage, A Cause of Perinatal Mortality. Indian Ped. 1978; 15: 403.
    5. Banerjee CK, Narang A and Bhakov ON. Cerebral Intraventricular Haemorrhage and Autopsy. Indian Ped. 1977; 14: 115-6.
    6. Behrman RE and Driscoll JM. Neonatology. St Louis: CV Mosby Co. 1973; pp 527-9.
    7. Volpe JJ. Neonatal Periventricular Haemorrhage: Past, Present and Future. J Paed. 1978; 92: 693-5.
    8. Leksmono PR, Hafid A dan Sajid DM. Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya. Cermin Dunia Kedokteran. 1984; 34: 32-4.
    9. Schaffer and Avery. Intracranial Haemorrhage, Disease of New- born. 3rd ed. Philadelphia-London-Toronto: WB Saunders Co. 1971; pp 601-5.
    10. Mc Donald MM, Johnson ML, Rumack CM, Koops BL, Guggen- heim MA and Hathaway WE. Role of Coagulopathy in Newborn Intracranial Haemorrhage. Pediatrics. 1984;74: 26-7.
    11. Mc Donald MM, Koops BL, Johnson ML, Guggenheim MA and Hathaway WE. Timing and Antecedent of Intracranial Haemorrhage in The Newborn Pediatrics. 1984; 74: 32.
    12. Susworo. Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak. Cermin Dunia Kedokteran.1984; 34: 28-9. 13. Purnomo Suryantoro, Moch Bachtiar dan Achmad Suryono. Penanganan Infeksi Pada Bayi Baru Lahir. Kumpulan Naskah Ilmiah Simposium dan Seminar Neonatologi, Jakarta 1977.
    14. Nelson. Texbook of Pediatrics. 10th ed. Tokyo: Igaku Shoin Ltd. 1975.
    15. Arhan Arief. Renjatan Pada Neonatus. BIKA I KUI. 1983; hal 36-40.
    16. Mealy J. Infantile Subdural Hematomas. The Ped Clinics North
    Am. 1975; 22: 433-5.
    17. Volpe JJ. Intracranial Hemorrhage in The Newborn: Current Understanding and Dilemmas. Neurol. 1979; 29: 32-4.
    18. Cole VA, Durbin GM, 011afson A, Reynolds EO, Rivers RP and Smith 1F. Pathogenesis. of Intraventicular Haemorrhage in New- born Infants. Arch Dis Child. 1974;49: 722-3.




    "
    lihat artikel selengkapnya - Perdarahan intrakranial pada neonatus
    iklan

    ASFIKSIA NEONATORUM

    iklan
    Definisi


    Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (PaCO2 meningkat) dan asidosis.


    Etiologi

    1. Faktor neonatus

    - Hipoksia ibu

    - Gangguan aliran darah uterus

    2. Faktor plasenta

    3. Faktor fetus

    4. Faktor ibu


    Patofisiologi

    Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta. Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.


    Gejala Klinik

    Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.


    Manifestasi Klinis

    1. Serangan jantung

    2. Ptekie hemorragis

    3. Sianosis dan kongestif

    4. Penemuan jalan napas


    Diagnosis

    anamnesis : gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas/menangis.


    Pemeriksaan fisik :

    Nilai Apgar

    klinis 0 1 2

    detak jantung tidak ada 100x/menit

    pernafasan tidak ada tak teratur tangis kuat

    refleks saat jalan nafas dibersihkan tidak ada menyeringai batuk/bersin

    tonus otot lunglai fleksi ekstrimitas (lemah) fleksi kuat gerak aktif

    warna kulit biru pucat tubuh merah ekstrimitas biru merah seluruh tubuh

    nilai 0-3 : asfiksia berat

    nilai 4-6 : asfiksia sedang

    nilai 7-10 : normal

    Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skorapgar)


    Pemeriksaan Penunjang :

    1. Foto polos dada

    2. USG kepala

    3. laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit


    Pemeriksaan Diagnostik

    1. Analisa Gas darah

    2. Elektrolit darah

    3. Gula darah

    4. Baby gram (RO dada)

    5. USG (kepala)


    Komplikasi

    Meliputi berbagai organ yaitu :

    1. otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis

    2. jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru

    3. gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans

    4. ginjal : tubular nekrosis akut, siadh

    5. hematologi : dic


    Penatalaksanaan

    Ada beberapa tahap: ABC resusitasi,

    • A= memastikan saluran nafas terbuka

    • B= memulai pernafasan

    • C= mempertahankan sirkulasi (peredaran darah)


    Asuhan Keperawatan

    Pengkajian

    1. Pernafasan yang cepat

    2. Pernafasan cuping hidung

    3. Sianosis

    4. Nadi cepat

    5. Reflek lemah

    6. Warna kulit biru atau pucat

    7. Penilaian apgar skor menunjukkan adanya asfiksia, seperti asfiksia ringan (7-10), sedang (4-6), dan berat (0-3)

    Diagnosis / masalah keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas

    2. Penurunan kardiac out put

    3. Intoleransi aktifitas

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    6. Kurangnya pengetahuan

    Intervensi keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas :

    Monitoring gas darah, mengkaji denyut nadi, monitoring sistem jantung dan paru (resusitasi), memberikan oksigen yang adekuat.

    2. Penurunan kardiac out put :

    Monitoring jantung paru, mengkaji tanda vital, memonitor perfusi jaringan tiap 2-4 jam, monitor denyut nadi, memonitor intake dan out put serta melakukan kolaborasi dalam pemberian vasodilator.

    3. Intoleransi aktifitas :

    Menyediakan stimulasi lingkungan yang minimal, menyediakan monitoring jantung paru, mengurangi sentuhan, melakukan kolaborasi analgetik sesuai kondisi, memberikan posisiyang nyaman.

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    Pemberian diuretik sesuai dengan indikasi, monitor laboratorium urine, pemeriksaan darah.

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    Memperhatikan teknik aseptik

    6. Kurangnya pengetahuan


    DAFTAR PUSTAKA


    Anonim. Asfiksia Pada Bayi. http://www.google.com/.

    Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Edisi 1. Jakarta : Salemba Medika.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - ASFIKSIA NEONATORUM
    iklan

    Caput Suksadenum

    iklan

    jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :

    1. Caput Suksadenum


    Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.


    Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.


    2. Sefalhematoma


    Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.


    3. Trauma pleksus brakialis


    Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.


    Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.


    Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.


    4. Fraktur klavikula


    Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.


    5. Fraktur humerus


    Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.


    Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - Caput Suksadenum
    iklan

    Kelainan bawaan pada neonatus

    iklan

    1. Labioskizis dan Labiopalatoskizis


    Labioskizis atau labiopalatiskizis merupakan konginetal anomaly yang berupa kelainan bentuk pada struktur wajah, yang terjadi karena kegagalan proses penutupan procesus nasal medial dan maxilaris selama perkembangan fetus dalam kandungan

    Etiologi :

    • Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui

    • Faktor Herediter

    • Abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen

    Manifestasi Klinik :

    Palatoskizis

    - Distorsi pada hidung

    Adanya celah pada bibir

    Labioskizis

    - Adanya celah pada tekak (uvula), palatum durum dan palatum mole

    Adanya rongga pada hidung sebagai celah pada langit-langit

    - Distorsi hidung

    Penatalaksanaan :

    • Tergantung pada beratnya kecacatan

    • Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

    • Cegah terjadinya komplikasi

    • Dilakukan pembedahan

    2. Atresia Esophagus

    Atresia esophagus adalah gangguan pembentukan dan pergerakan lipatan pasangan kranial dan satu lipatan kaudal pada usus depan primitif

    Etiologi dari atresia esophagus yaitu kegagalan pada fase embrio terutama pada bayi yang lahir prematur

    Manifestasi klinik pada neonatus dengan atresia esophagus antara lain :

    -Hhipersekresi cairan dari mulut

    - Gangguan menelan makanan (tersedak, batuk)

    Penatalaksanaan :

    • Pertahankan posisi bayi atau pasien dalam posisi tengkurap, bertujuan untuk meminimalkan terjadinya aspirasi

    • Pertahankan keefektifan fungsi respirasi

    • Dilakukan tindakan pembedahan

    3. Atresia Rekti dan Atresia Anus

    Atresia rekti yaitu obstruksi pada rektum (sekitar 2 c dari batas kulit anus). Pada pasien ini, umumnya memiliki kanal dan anus yang normal

    Atresia anus yaitu obstruksi pada anus

    Etiologi

    Malformasi kongenital

    Manifestasi Klinik

    - Tidak bisa BAB melalui anus

    - Distensi abdomen

    - Tidak dapat dilakukan pemeriksaan suhu rektal

    - Perut kembung

    - Muntah

    Penatalaksanaan :

    Dilakukan tindakan kolostomi

    4. Hirschprung

    Hirschprung merupakan kelainan konginetal berupa obstruksi pada sistem pencernaan yang disebabkan oleh karena menurunnya kemampuan motilitas kolon, sehingga mengakibatkan tidak adanya ganglionik usus

    Etiologi :

    Kegagalan pembentukan saluran pencernaan selama masa perkembangan fetus

    Tanda dan Gejala :

    • Konstipasi/tidak bisa BAB/diare

    • Distensi abdomen

    • Muntah

    • Dinding abdomen tipis

    Penatalaksanaan :

    • Pengangkatan aganglionik (usus yang dilatasi)

    • Dilakukan tindakan Colostomi

    • Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

    5. Obstruksi Billiaris

    Obstruksi billiaris adalah tersumbatnya saluran kandung empedu karena terbentuknya jaringan fibrosis

    Etiologi :

    - Degenerasi sekunder

    - Kelainan kongenital

    Tanda dan Gejala :

    - Ikterik (pada umur 2-3 minggu)

    - Peningkatan billirubin direct dalam serum (kerusakan parenkim hati, sehingga bilirubin indirek meningkat)

    - Bilirubinuria

    - Tinja berwarna seperti dempul

    - Terjadi hepatomegali

    Penatalaksanaan

    Pembedahan

    6. Omfalokel

    Omfalokel merupakan hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dalam kantong peritoneum

    Etiologi

    Kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada waktu janin berumur 10 minggu

    Tanda dan Gejala

    - Gangguan pencernaan, karena polisitemia dan hiperinsulin

    - Berat badan lahir > 2500 gr

    Penatalaksanaan

    - Bila kantong belum pecah, diberikan merkurokrom yang bertujuan untuk penebalan selaput yang menutupi kantong

    - Pembedahan

    7. Hernia Diafragmatika

    Hernia diafragmatika terjadi akibat isi rongga perut masuk ke dalam lobang diafragma

    Etiologi

    Kegagalan penutupan kanalis pleuroperitoneum posterolateral selama kehamilan minggu ke-8

    Tanda dan Gejala

    Bayi mengalami sesak napas

    Bayi mengalami muntah karena obstruksi usus

    Penatalaksanaan

    • Berikan diit RKTP

    • Berikan Extracorporeal Membrane Oxygenation (EMCO)

    • Dilakukan tindakan pembedahan

    8. Atresia Duodeni

    Atresia Duodeni adalah obstruksi lumen usus oleh membran utuh, tali fibrosa yang menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak bersambung

    Etiologi

    Kegagalan rekanalisasi lumen usus selama masa kehamilan minggu ke-4 dan ke-5

    Banyak terjadi pada bayi yang lahir prematur

    Tanda dan Gejala

    Bayi muntah tanpa disertai distensi abdomen

    Ikterik

    Penatalaksanaan

    Pemberian terapi cairan intravena

    Dilakukan tindakan duodenoduodenostomi

    9. Meningokel dan Ensefalokel

    Meningokel dan ensefalokel yaitu adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang abnormal korda spinalis atau penutupannya

    Etiologi

    Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam kandungan

    Tanda dan Gejala

    - Gangguan persarafan

    - Gangguan mental

    - Gangguan tingkat kesadaran

    Penatalaksanaan

    Pembedahan

    10. Hidrosefalus

    Hidrosefalus merupakan kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya Liquor Cerebrospinal (LCS). Kadang disertai dengan peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial)

    Etiologi

    • Gangguan sirkulasi LCS

    • Gangguan produksi LCS

    Tanda dan Gejala

    • Terjadi pembesaran tengkorak

    • Terjadi kelainan neurologis, yaitu Sun Set Sign (Mata selalu mengarah kebawah)

    • Gangguan perkembangan motorik

    • Gangguan penglihatan karena atrofi saraf penglihatan

    Penatalaksanaan

    • Pembedahan

    • Pemasangan “Suchn Suction”

    11. Fimosis

    Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis atau suatu keadaan normal yang sering ditemukan pada bayi baru lahir atau anak kecil, dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya

    Etiologi

    Malformasi konginetal

    Tanda dan Gejala

    Gangguan proses berkemih

    Penatalaksanaan

    Dilakukan tindakan sirkumsisi

    12. Hipospadia

    Hipospadia yaitu lubang uretra tidak terletak pada tempatnya, mis : berada di bawah penis

    Etiologi

    • Uretra terlalu pendek, sehingga tidak mencapai glans penis

    • Kelainan terbatas pada uretra anterior dan leher kandung kemih

    • Merupakan kelainan konginetal

    Tanda dan Gejala

    • Penis agak bengkok

    • Kadang terjadi keluhan miksi, jika disertai stenosis pada meatus externus

    Penatalaksanaan

    • Pada bayi : dilakukan tindakan kordektomi

    • Pada usia 2-4 tahun : dilakukan rekonstruksi uretra

    • Tunda tindakan sirkumsisi, hingga kulit preputium penis/scrotum dapat digunakan pada tindakan neouretra

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - Kelainan bawaan pada neonatus
    iklan

    Minggu, 03 Januari 2010

    Baby Blues

    iklan
    Baby Blues:

    Baby blues dialami oleh 50 sampai 75% ibu baru. Gangguan ini paling sering terjadi dan bentuk reaksi pascamelahirkan yang paling ringan. Gejalanya antara lain:


    - Menangis tanpa penyebab yang jelas


    - Tidak sabar; merasa sendiri


    - Peka rangsang; kehilangan identitas


    - Gelisah’ merasa sedih


    - Cemas; harga diri rendah


    - Lebih sensitif dan rentan


    Gejala-gejala di atas memang tidak menyenangkan, tetapi dapat diatasi. Baby blues mulai terjadi pada hari ketiga sampai keempat setelah kelahiran dan berlangsung seminggu sampai dua minggu. wanita sering mengalami kebingungan atau disorientasi. Wanita sangat memerlukan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, seperti pasangan, ibu-ibu yang mengalami hal sama, dan tenaga medis. Apabila gejala yang anda mengganggu kemampuan ibu merawat diri dan bayinya, wanita mungkin mengalami depresi pascamelahirkan.

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - Baby Blues
    iklan

    Kuning Telur Berkhasiat Menyapih Bayi

    iklan
    Kuning Telur Berkhasiat Menyapih Bayi: "




    TRADISI mengoleskan jamu atau brotowali, bahkan kopi pada puting susu untuk menyapih si kecil patut ditinggalkan. Penelitian yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan kuning telur adalah makanan penyapih yang baik jika bayi Anda terpaksa tak bisa menyusu atau tidak toleran terhadap susu sapi. Kuning telur mengandung nutrisi yang cukup untuk perkembangan otak ketika harus menyapih bayi Anda.

    Penelitian ini melibatkan 137 ibu yang memiliki bayi berusia enam bulan. Bayi-bayi ini secara acak memakan kuning telur yang sudah diperkaya Omega 3. Uji darah yang dilakukan pada bayi ini menunjukkan peningkatan kadar DHA 30-40 persen lebih tinggi. Kadar zat besi pada tubuh bayi juga naik. Sementara kadar kolesterol tak menunjukkan peningkatan.


    Jika ingin menirunya, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak Anda, karena kuning telur merupakan alergen (zat pencetus alergi) bagi bayi yang alergi makanan tertentu.

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - Kuning Telur Berkhasiat Menyapih Bayi
    iklan

    Askep pada bayi dengan RSD

    iklan
    Askep pada bayi dengan RSD: "

    ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN RSD


    DEFINISI


    Adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA (Stark 1986).


    PATOFISIOLOGI


    Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.


    Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :



    1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic>asidosis metabolic.

    2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan membrane hialin.


    Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantun, penurunan aliran darah keparum, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis.


    Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.


    GAMBARAN KLINIS


    RDS mungkin terjadi pada bayi premature dengan berat badan <1000>


    Tanda-tanda gangguan pernafasan berupa :


    ± Dispnue/hipernue


    ± Sianosis


    ± Retraksi suprasternal / epigastrik / intercostals


    ± Grunting expirasi


    Didapatkan gejala lain seperti :


    ± Bradikardi


    ± Hipotensi


    ± Kardiomegali


    ± Edema terutama didaerah dorsal tangan atau kaki


    ± Hipotermi


    ± Tonus otot yang menurun


    Gambaran radiology : bercak-bercak difus berupa infiltrate retikulogranular disertai dengan air bronkogram.


    DIAGNOSA KEPERAWATAN



    1. Inefektif pola nafas b.d adanya penumpukan lendir pada jalan nafas.

    2. Gangguan perfusi jaringan b.d kurangnya oksigenasi keotak

    3. Defisit volume cairan b.d meningkatnya metabolisme

    4. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang tidak adekuat

    5. Resiko terjadinya infeksi pada tali pusat b.d invasi kuman patogen kedalam tubuh

    6. Kecemasan ortu b.d kurang pengetahuan ortu tentang kondisi bayi.



    RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


    PADA BAYI DENGAN RDS
















































    No.



    Diagnosa Keperawatan



    Tujuan



    Perencanaan



    1.


    Inefektif pola nafas b.d akumulasi secretPola nafas efektif Kriteria hasil :

    ¨ RR 30-60 x/mnt


    ¨ Sianosis (-)


    ¨ Sesak (-)


    ¨ Ronchi (-)


    ¨ Whezing (-)

    § Observasi pola nafas

    § Observasi frekuensi bunyi nafas


    § Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.


    § Observasi adanya sianosis.


    § Lakukan suction.


    § Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.


    § Beri O2 sesuai program.


    § Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.


    § Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.


    § Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.

    2Gangguan perfusi jaringan b.d kurangnya oksigenasi keotakGangguan perfusi jaringan teratasi Kriteria hasil :

    ¨ RR 30-60 x/mnt.


    ¨ Nadi 120-140 x/mnt.


    ¨ Suhu 36,5-37 C


    ¨ Sianosis (-)


    ¨ Ekstremitas hangat

    § Observasi frekwensi dan bunyi jantung.

    § Observasi adanya sianosis.


    § Beri oksigen sesuai kebutuhan


    § Kaji kesadaran bayi


    § Observasi TTV


    § Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy.

    3.Resiko Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. intake yang tidak adekuatKebutuhan nutrisi ter- penuhi

    Kriteria hasil :


    ¨ Tidak terjadi penurunan BB> 15 %.


    ¨ Muntah (-)


    ¨ Bayi dapat minum dengan baik

    § Observasi intake dan output.

    § Observasi reflek menghisap dan menelan bayi.


    § Kaji adanya sianosis pada saat bayi minum.


    § Pasang NGT bila diperlukan


    § Beri nutrisi sesuai kebutuhan bayi.


    § Timbang BB tiap hari.


    § Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy.


    § Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diit bayi

    4.Kecemasan Ortu b.d kurang pengetahuan tentang kondisi bayinya.Kecemasan berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.

    Kriteria hasil :


    ¨ Orang tua mengerti tujuan yang dilakukan dalam pengobatan therapy.


    ¨ Orang tua tampak tenang.


    ¨ Orang tua berpartisipasi dalam pengobatan.

    § Jelaskan tentang kondisi bayi.

    § Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan penjelasan tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan berkaitan dengan penyakit yang diderita bayi.


    § Libatkan orang tua dalam perawatan bayi.


    § Berikan support mental.


    § Berikan reinforcement atas pengertian orang tua.

    5.Resiko infeksi tali pusat b.d invasi kuman patogen.¨ Infeksi tali pusat tidak terjadi.

    ¨ Kriteria hasil :


    ¨ Suhu 36-37 C


    ¨ Tali pusat kering dan tidak berbau.


    ¨ Tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat.

    § Lakukan tehnik aseptic dan antiseptic pada saat memotong tali pusat.

    § Jaga kebersihan daerah tali pusat dan sekitarnya.


    § Mandikan bayi dengan air bersih dan hangat.


    § Observasi adanya perdarahan pada tali pusat.


    § Cuci tali pusat dengan sabun dan segera keringkan bila tali pusat kotor atau terkena feses.


    § Observasi suhu bayi.

    6.Devisit volume cairan b.d metabolisme yang meningkat.Volume cairan terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan.

    Kriteria hasil :


    ¨ Suhu 36-37 C


    ¨ Nadi 120-140 x/mnt


    ¨ Turgor kulit baik.

    § Observasi suhu dan nadi.

    § Berikan cairan sesuai kebutuhan.


    § Observasi tetesan infus.


    § Observasi adanya tanda-tanda dehidrasi atau overhidrasi.


    § Kolaborasi pemberian therapy.

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - Askep pada bayi dengan RSD
    iklan

    Selasa, 01 Desember 2009

    Konsep Dasar Tumbuh Kembang

    iklan

    Pengertian
    Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dibedakan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses pematangan (Soetjiningsih, 1995).
    Whaley dan Wong dalam Supartini (2004) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran.
    Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
    Menurut Soetjiningsih (1995), secara umum terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :
    1) Faktor genetik
    Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui intruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa.
    2) Faktor lingkungan
    Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :
    a) Faktor lingkungan pada waktu masih di dalam kandungan (faktor prenatal).
    Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
    b) Faktor lingkungan setelah lahir (faktor postnatal)
    Lingkungan postnatal dapat digolongkan menjadi :
    (1) Lingkungan biologis
    Meliputi ras, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
    (2) Faktor fisik
    Meliputi cuaca, sanitasi, keadaan rumah, dan radiasi.
    (3) Faktor psikososial
    Meliputi stimulasi, motivasi belajar,ganjaran atau hukuman yang wajar, kelompok sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih sayang, dan kualitas interaksi anak-orang tua.
    (4) Faktor keluarga dan adat istiadat
    Meliputi pekerjaan atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua, adat-istiadat, agama, urbanisasi, dan kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak dan anggaran.
    Ciri-ciri tumbuh kembang anak
    Tumbuh kembang anak yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa mempunyai cirri-ciri tersendiri, yaitu (Soetjiningsih, 1995) :
    Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas atau dewasa, dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
    Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara organ-organ.
    Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
    Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi system susunan saraf.
    Aktivitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.
    Arah perkembangan anak adalah cephalocaudal.
    Refleks primitive seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.

    Klasifikasi
    Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi menjadi 3, yaitu;
    a. Tumbuh kembang fisis
    Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
    b. Tumbuh kembang intelektual
    Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik,seperti bermain, berbicara, berhitung, atau membaca.
    c. Tumbuh kembang emosional
    Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi untuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih

    Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry ( 2005 )
    A. Perkembangan merupakan hal yang terartur dan mengikuti rangkaian tertentu
    B. Perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut
    Cephalocaudal, pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian tubuh
    Proximodistal, perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat ( proksimal ) tubuh kea rah luar tubuh ( distal )
    Differentiation, ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks.
    C. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi , terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis

    http://askep-askeb.cz.cc/
    lihat artikel selengkapnya - Konsep Dasar Tumbuh Kembang
    iklan

    Jumat, 18 September 2009

    Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas

    iklan
    Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas

    a. Pengertian

    Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).

    Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).



    b. Angka kejadian dan diagnosis

    Pada rumah sakit umum yang telah menjadi rumah sakit rujukan terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%. Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans; 1997; 220).

    Diagnosis dari penyakit ini adalah melakukan kultur (biakan kuman) dengan swab sebagai mediator untuk menunjukkan adanya kuman di dalam saluran pernafasan. Pada hitung jenis (leukosit) kurang membantu sebab pada hitung jenis ini tidak dapat membedakan penyebab dari infeksi yakni yang berasal dari virus atau streptokokus karena keduanya dapat menyebabkan terjadinya leukositosis polimorfonuklear (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 453).



    c. Etiologi dan karakteristik

    Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).
    Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.

    Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.
    Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.

    Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.

    Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).



    d. Manifestasi klinis

    Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hisung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).



    e. Terapi dan Penatalaksanaan

    Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.
    Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452).



    f. Diagnosis banding

    Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akuta yang sering disertai dengan muntah (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 454).



    g. Tanda dan gejala yang muncul

    1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
    2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
    3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.
    4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.
    5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.
    6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.
    7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
    8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
    9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).




    h. Pengkajian terutama pada jalan nafas

    Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.
    Pola, cepat (tachynea) atau normal.
    Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
    Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
    Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
    Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum (Whaley and Wong; 1991; 1420).




    i. Pemeriksaan penunjang

    Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman, pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Victor dan Hans; 1997; 224).




    j. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, tujuan dan intervensi

    1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada saluran pernafasan, nyeri.
    Tujuan:
    Pola nafas kembali efektif dengan kriteria: usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru.


    Intervensi:
    a. Berikan posisi yang nyaman sekaligus dapat mengeluarkan sekret dengan mudah.
    b. Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.
    c. Anjurkan pada keluarga untuk membawakan baju yang lebih longgar, tipis serta menyerap keringat.
    d. Berikan O2 dan nebulizer sesuai dengan instruksi dokter.
    e. Berikan obat sesuai dengan instruksi dokter (bronchodilator).
    f. Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman dalam pernafasan.


    2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan produksi sekret.
    Tujuan:
    Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret dengan kriteria: jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret.


    Intervensi:
    a. Lakukan penyedotan sekret jika diperlukan.
    b. Cegah jangan sampai terjadi posisi hiperextensi pada leher.
    c. Berikan posisi yang nyaman dan mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side lying position).
    d. Berikan nebulizer sesuai instruksi dokter.
    e. Anjurkan untuk tidak memberikan minum agar tidak terjadi aspirasi selama periode tachypnea.
    f. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan perparenteral yang adekuat.
    g. Berikan kelembaban udara yang cukup.
    h. Observasi pengeluaran sekret dan tanda vital.


    3. Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak, hospitalisasi pada anak

    Tujuan:
    Menurunnya kecemasan yang dialami oleh orang tua dengan kriteria: keluarga sudah tidak sering bertanya kepada petugas dan mau terlibat secara aktif dalam merawat anaknya.


    Intervensi:
    a. Berikan informasi secukupnya kepada orang tua (perawatan dan pengobatan yang diberikan).
    b. Berikan dorongan secara moril kepada orang tua.
    c. Jelaskan terapi yang diberikan dan respon anak terhadap terapi yang diberikan.
    d. Anjurkan kepada keluarga agar bertanya jika melihat hal-hal yang kurang dimengerti/ tidak jelas.
    e. Anjurkan kepada keluarga agar terlibat secara langsung dan aktif dalam perawatan anaknya.
    f. Observasi tingkat kecemasan yang dialami oleh keluarga.



    DAFTAR PUSTAKA

    Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC.

    Whalley & wong. (1991). Nursing Care of Infant and Children Volume II book 1. USA: CV. Mosby-Year book. Inc

    Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. (1997). Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

    lihat artikel selengkapnya - Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas
    iklan

    Askep Anak dengan BBLR

    iklan
    Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

    A. DEFINISI

    Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir ).

    Ada dua macam BBLR yaitu :





    1. Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ) : bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu.

    2. Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin.



    Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ).



    B. ETIOLOGI

    Faktor Ibu :

    1. Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 th

    2. Perdarahan antepartum

    3. Bahan teratogonik ( alcohol, radiasi, obat )

    4. Penyakit kronis

    5. Keadaan penyebab Infusifiensi plasenta ( penyakit jantung, ginjal, paru, hipertensi, dll )

    6. Malnutris

    7. Kelainan uterus

    8. Hidramnion

    9. Trauma

    10. Jarak kehamilan terlalu dekat

    11. Pekerjaan berat semasa hamil





    Faktor Plasenta

    • Penyakit Vaskuler

    • Kehamilan ganda

    • Malformasi

    • Tumor

    • Plasenta privea





    Faktor Janin

    • Kelainan kromosom

    • Malformasi

    • Infeksi congenital ( missal : rubella )

    • Kehamilan ganda

    • Ketuban pecah dini





    C. TANDA – TANDA KLINIS



    Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :

    • Berat kurang dari 2500 gram

    • Panjang kurang dari 45 cm

    • Lingkar dada kurang dari 30 cm

    • Lingkar kepala kurang dari 33 cm

    • Umur kehamilan kurang dari 37 minggu

    • Kepala lebih besar

    • Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang

    • Otot hipotonik lemah

    • Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea

    • Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus

    • Kepala tidak mampu tegak

    • Pernapasan 40 – 50 kali / menit

    • Nadi 100 – 140 kali / menit





    D. PROBLEMATIK BBLR



    Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini :





    1. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif,produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.



    2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak)





    3. Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni.



    4. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi, distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak, laktosa,vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardio esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi asspirasi.





    5. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.



    6. Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis metabolik.





    7. Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh(fragile), kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine, faktor VII dan faktor christmas.



    8. Gangguan imunologok, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahya kadar Ig G gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih belum baik





    9. Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita apnea,asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat



    10. Retrolental Fibroplasia : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah yang iskemi sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak boleh lebih dati 40%. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit.





    E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK



    • Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia

    • Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan

    • Titer Torch sesuai indikasi

    • Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi

    • Pemantauan elektrolit

    • Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax )





    F. PENATALAKSANAAN



     Penanganan bayi

    Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator



     Pelestarian suhu tubuh

    Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.

    Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram



     Inkubator

    Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.



     Pemberian oksigen

    Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box, konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan



     Pencegahan infeksi

    Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.





     Pemberian makanan

    Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.







    G. PROGNOSIS

    Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501- 2500 gram adalah 95 %, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal, enterokolitis nekrotikans, atau infeksi sekunder.



    BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi.



    Pada BBLR , makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik.





    H. MEMULANGKAN BAYI

    Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri, baik dengan botol maupum putting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi.





    I. PENGKAJIAN

     Sirkulasi :

    Nadi apikal mungkin cepat dan atau tidak teratur dalam batas normal(120-160 dpm). Mur-mur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktusarteriosus paten(PDA).

     Makanan/cairan

    Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz).

     Neuroensori

    Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut.

    Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar.

    Edema kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi).

    Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32.

    Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.



     Pernafasan

    Skor apgar mungkin rendah.

    Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt).

    Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada.

    Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS).



     Keamanan

    Suhu berfluktuasi dengan mudah.

    Menangis mungkin lemah.

    Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum.

    Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/pucat.

    Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh.

    Ekstremitas mungkin tampak edema.

    Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak.

    Kuku mungkin pendek.



     Seksualitas

    Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.







    J. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL

    1. Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengankelemahan otot pernafasan.

    2. Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur.

    3. Resiko tinggi infeksi sekunder berhubungan dengan immaturitas fungsi imunologik.

    4. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan.





    K. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN













    NO

    TUJUAN

    INTERVENSI

    1.





















    2.

















    3.

























    4.

    Setelah mendapat tindakan keparawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan pola nafas(nafas efektif)

    Kriteria Hasil :

    § Akral hangat

    § Tidak ada sianosis

    § Tangisan aktif dan kuat

    § RR : 30-40x/mt

    § Tidak ada retraksi otot pernafasan





    Setelah mendapatkan tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan terumoregulasi

    Kriteria Hasil :

    § Badan hangat

    § Suhu : 36,5-37oC







    Setelah mendapat tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi infeksi

    Kriteria Hasil :

    § Tidak ada tanda-tanda infeksi(tumor,dolor,rubor,calor,fungsiolaesa)

    § Suhu tubuh normal (36,5-37oC)













    Setelah tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan nutrisi

    Kriteria Hasil :

    § Diet yang diberikan habis tidak ada residu

    § Reflek menghisap dan menelan kuat

    § BB meningkat 100 gr/3hr.

    1.1. Monitor pernafasan (kedalaman, irama, frekuensi )

    1.2. Atur posisi kepala lebih tinggi

    1.3. Monitor keefektifan jalan nafas, kalau kerlu lakukan suction.

    1.4. Lakukan auskultasi bunyi nafas tiap 4 jam

    1.5. Perthankan pemberian O2

    1.6. Pertahankan bayi pada inkubator dengan penghangat

    1.7. Kolaborasii untuk X foto thorax



    2.1. Pertahankan bayi pada inkubator dengan kehangatan 37oC

    2.2. Beri popok dan selimut sesuai kondisi

    2.3. Ganti segera popok yang basah oleh urine atau faeces

    2.4. Hindarkan untuk sering membuka penutup karena akan menyebabkan fluktuasi suhu dan peningkatan laju metabolisme

    2.5. Atur suhu ruangan dengan panas yang stabil

    3.1. Monitor tanda-tanda infeksi(tumor,dolor,rubor,calor,fungsiolaesa)

    3.2. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi

    3.3. Anjurkan kepada ibu bayi untuk memakai jas saat masuk ruang bayi dan sebelum dan/sesudah kontak cuci tangan

    3.4. Barikan gizi (ASI/PASI) secara adekuat

    3.5. Pastikan alat yang kontak dengan bayi bersih/steril

    3.6. Berikan antibiotika sesuai program

    3.7. Lakukan perawatan tali pusat setiap hari



    4.1. Kaji refleks menghisap dan menelan

    4.2. Monitor input dan output

    4.3. Berikan minum sesuai program lewat sonde/spin

    4.4. Sendawakan bayi sehabis minum

    4.5. Timbang BB tiap hari.





    II. TERMOREGULASI PADA BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH

    A. PERANAN HIPOTALAMUS

    Suhu tubuh hampir seluruhnya diatur oleh mekanisme persarafan, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak pada hipotalamus

    Pada bayi baru lahir pusat pengatur suhu tubuhnya belum berfungsi dengan sempurna, sehingga mudah terjadi penurunan suhu tubuh, terutama karena lingkungan yang dingin.



    B. PENGATUR PANAS

    Pengatur panas atau temperatur regulasi terpelihara karena adanya keseimbangan antara panas yang hilang melalui lingkungan, dan produksi panas. Kedua proses ini aktifitasnya diatur oleh susunan saraf pusat yaitu hipotalamus.

    Dengan prinsip adanya keseimbangan panas tersebut bayi baru lahir akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya terhadap faktor-faktor penyebab hilangnya panas karena lingkungan.



    Pada saat kelahiran, bayi mengalami perubahan dari lingkungan intra uterin yang hangat ke lingkungan ekstra uterin ynag relatif lebih dingin. Hal tersebut menyebabkan penurunan suhu tubuh 2o-3oC, terutama hilangnya panas karena evaporasi atau penguapan cairan ketuban pada kulit bayi yang tidak segera dikeringkan. Kondisi tersebut akan memacu tubuh menjadi dingin yang akan menyebabkan respon metabolisme dan produksi panas.



    Pengaturan panas pada bayi baru lahir berhubungan dengan metabolisme dan penggunaan oksigen.

    Dalam lingkungan tertentu pada batas suhu maksimal, penggunaan oksigen dan metabolisme minimal, karena itu suhu tubuh harus dipertahankan untuk keseibangan panas.



    Bayi cukup bulan dalam keadaan tanpa pakaian dapat bertahan pada suhu lingkungan sekitar 32-34oC. Sedangkan batas pada orang dewasa 26-28oC. Oleh karena itu bayi baru lahir normal memerlukan suhu lingkungan yang lebih hangat dan suhu lingkungan tersebut harus dipelihara dengan baik.

    Pada bayi baru lahir lemak subkutannya lebih sedikit dan epidermis lebih tipis dibandingkan pada orang dewasa. Pembuluh darah pada bayi sangat mudah dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan dan semua ini dibawah pengaruh hipotalamus sebagai pusat pengatur suhu.



    Kelenturan pada tubuh bayi menurun pada daerah permukaan sehingga akan mempercepat hilangnya panas. Hal tersebut dipengaruhi panjang badan bayi, perbandingan permukaan utbuh dengan berat badan dari usia bayi, yang semua ini dapat mempengaruhi batas suhu normal. Pada bayi dengan berat badan lahir rendah(BBLR) jaringanadiposa sedikit dan kelenturan menurun sehingga memerlukan suhu lingkungan yang lebih panas untuk mencapai suhu yang normal.



    Jika suhu lingkungan turun dibawah suhu yang rendah, bayi akan merespon dengan meningkatkan oksigen danmemperbesar metabolisme sehingga akan meningkatkan produksi panas.

    Bila bayi berada ditempat terbuka dengan lingkugan yang dingin dapat menyebabkan habisnya cadangan glikogen dan menyebabkan asidosis.





    C. PRODUKSI PANAS ATAU THERMOGENESIS



    Ditempat yang terbuka dan lingkungan yang dingin bayi baru lahir memerlukan penambahan panas.

    Bayi mempunyai mekanisme fisiologi untuk meningkatkan produksi panas dipengaruhi oleh karena : Meningkatnya Metabolisme Rate, Aktifitas otot dan Thermogenesis Kimiawi :



    a. Basal Metabolisme Rate

    Basal metabolisme rate adalah jumlah energi yang digunakan tubuh selama istirahat mutlak dan keadaan sadar.

    Pada bayi baru lahir, gerakan tubuh, menggigil merupakan mekanisme penting untuk memproduksi panas. Gerakan menggigil terjadi ketika reseptor kulit menurun pada suhu lingkungan yang dingin, dan kondisi tersebut akan diteruskan kesusunan saraf pusat yang akan menstimuli sistem saraf simpatis untuk menggunakan cadangan lemak coklat, yang merupakan sumber panas yang utama untuk mengatasi stres dingin.

    Pelepasan norephineprin oleh kelenjar adrenal dan saraf lokal berakhir pada lemak coklat yang menyebabkan trigliserid dapat dimetabolisme menjadi gliserol dan fatty acid (asam lemak). Oksidasi asam lemak ini meningkatkan produksi panas. Jika suplai lemak coklat habis maka respon metabolisme terhadap keadaan dingin akan berkurang.

    Oksidasi asam lemak pada bayi tergantung dari tersedianya oksigen, glukosa, Adenosin Tri Phospat (ATP) dan kemampuan bayi untuk mengubah menjadi panas.

    Kemampuan bayi untuk menghasilkan oanas dapat berubah pada keadaan patologis seperti hipoksia, asidosis, dan hipoglikemi.



    b. Aktifitas otot

    Menggigil adalah bentuk dari aktifitas otot yang disebabkan karena suhu yang dingin. Produksi panas terjadi melalui peningkatan metabolisme rate dan aktifitas otot. Jika bayi tidak menggigil berarti metabolisme rate pada bayi sudah cukup.



    c. Thermogenesis Kimiawi

    Disebabkan karena pelepasan norephineprin dan ephineprin oleh rangsang saraf simpatis.





    D. ALIRAN DARAH KE KULIT



    Kecepatan aliran darah yang tinggi menyebabkan konduksi panas yang disalurkan dari inti tubuh ke kulit sangat efisien. Efek aliran darah kulit pada konduksi panas dari inti tubuh permukaan kulit menggambarkan peningktan konduksi panas hampir delapan kali lipat. Oleh karena itu “Kulit merupakan sistem pengatur radiator panas yang efektif “, dan aliran darah ke kulit adalah mekanisme penyebaran panas yang paling efektif dari inti tubuh ke kulit.

    Dengan meletakan bayi telungkup didada ibu akan terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi sehingga bayi akan memperoleh kehangatan karena ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi.







    E. HILANGNYA PANAS PADA BAYI



    Hilangnya panas pada bayi merupakan keadaan yang merugikan, karena itu suhu tubuh normal pada bayi harus dipelihara. Menurut buku Maternal and Neonatal Nursing, 1994, hilangnya panas pada bayi baru lahir melalui empat cara yaitu :



    a. Radiasi

    Radiasi yaitu : transfer panas dari bayi kepermukaan yang lebih dingin, dan obyek yang tidak berhubungan langsung dengan bayi.

    Hal tersebut dapat diartikan, panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar bayi yang lebih dingin.

    Contoh : 1. Udara dingin pada dinding luar dan jendela

    2. Penyekat tempat tidur bayi yang dingin



    b. Evaporasi

    Evaporasi yaitu : hilangnya panas ketika air dari kulit bayi menguap.

    Kondisi tersebut disebabkan karena adanya cairan ketuban yang membasahi kulit bayi menguap.

    Contoh : 1. Bayi lahir tidak langsung dikeringkan dari cairan ketuban.

    2. Selimut atau popok basah bersentuhan dengan kulit bayi.



    c. Konduksi

    Konduksi yaitu : transfer panas yang terjadi ketika bayi kontak langsung dengan permukaan obyek yang dingin.

    Pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin.

    Contoh : 1. Tangan perawat yang dingin

    2. Tempat tidur, selimut, stetoskop yang dingin





    d. Konveksi

    Konveksi yaitu : Hilangnya panas pada bayi yang terjadi karena aliran udara yang dingin menyentuk kulit bayi

    Hal tersebut terjadi karena aliran udara sekliling bayi yang dingin.

    Contoh : 1. Bayi diletakan didekat pintu atau jendela yang terbuka

    2. Aliran udara dari pipa AC.





    F. RESPON BAYI TERHADAP HIPOTERMI

    Pada saat suhu kulit mulai turun, thermoreseptor menyebarkan impuls kesusunan saraf pusat, distimuli sistem saraf simpatis, norephineprin dilepaskan oleh kelenjar adrenal dan saraf setempat yang berakhir dengan lemak coklat dimetabolisme untuk memproduksi panas.





    G. PENILAIAN HIPOTERMI BAYI BARU LAHIR

    a. Gejala Hipotermi Bayi Baru Lahir

     Bayi tidak mau minum atau menetek

     Bayi tampak lesu atau mengantuk saja

     Tubuh bayi teraba dingin

     Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras(Skleremia)





    b. Tanda-Tanda Hipotermi Sedang (Stress Dingin)

     Aktifitas berkurang, letargis

     Tangisan lemah

     Kulit berwarna tidak rata

     Kemampuan menghiisap lemah

     Kaki teraba dingin





    c. Tanda-Tanda Hipotermi Berat (Cedera Dingin)

     Sama dengan hipotermi sedang

     Bibir dan kuku kebiruan

     Pernafasan lambat

     Pernafasan tidak teratur

     Bunyi jantung lambat

     Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemi dan asidosis metabolic





    d. Tanda-Tanda Stadium Lanjut Hipotermi

     Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang

     Bagian tubuh lainnya pucat

     Kulit memgeras dan timbul kemerahan pada punggung, kaki dan tangan (Sklerema)







    H. TINDAKAN PENCEGAHAN HIPOTERMIA

    Upaya mencegah hipotermi pada bayi baru lahir sangat penting dan merupakan prioritas agar bayi terhindar dari kondisi yang tidak dikehendaki.

    Hipotermi dapat terjadi setiap saat apabila suhu sekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkn dengan tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelah lahir. Contoh, terjadi hipotermi karena bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir.

    Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermi. Hal ini disebabkan oleh karena :

    a. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna

    b. Permukaan tubuh bayi relatif lebih luas

    c. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas

    d. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar tidak kedinginan





    Untuk mencegah terjadinya hipotermia pada bayi baru lahir perlu dilakukan upaya pencegahan yaitu :



    a. Ibu melahirkan bayi ditempat yang hangat

    Ruangan tempat ibu melahirkan harus hangat dan tertutup dengan sirkulasi udara yang cukup baik serta penyinaran cukup terang.



    b. Segera mengeringkan tubuh bayi

    Bayi lahir dengan tubuh basah oleh ketuban akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh, akibatnya dapat timbul serangan dingin(cold stress)

    Bayi baru lahir yang kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena pusat pengatur suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermi yang sering tidak terdeteksi oleh ibu atau perawat.





    Untuk mencegah timbulnya serangan dingin tindakan yang dilakukan yaitu :

     Setelah lahir bayi diletakan pada tempat yang diberi alas haduk kering, bersih dan hangat

     Segera keringkan bayi dengan haduk, lakukan dengan tepat mulai dari kepala kemudian seluruh tubuh. Bila handuk basah harus diganti yang kering, bersih dan hangat.

     Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat bayi diberi topi atau tutup kepala dan diberi kaos tangan dan kaos kaki.





    c. Segera letakan bayi pada dada ibu.

    Kontak langsung kulit ibu dan bayi agar mendapatkan kehangatan. Ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi baru lahir.

    d. Menunda memandikan bayi.

    Memandikan bayi dilakukan setelah suhu tubuh bayi setabil, bayi tampak aktif dan sehat. Memandikan bayi ditunda selama 24 jam setelah kelahiran.





    I. Teknik meningkatkan suhu bayi.

    a. Bayi ditempatkan pada inkubator dengan yang dilengkapi dengan alat pengatur suhu.

    b. Couves yang diberi lampu penghangat.

    c. Membedong bayi .

    d. Metode kanguru.







    DAFTAR PUSTAKA





    1. Berhman, Kliegman & Arvin. (1996). Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Alih Bahasa : A. Samik Wahab. Jilid 1. Jakarta : EGC.

    2. A.H Markum. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI

    3. Staf pengajar IKA FKUI. (1995). Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 3. Jakarta : IKA FKUI.

    4. Persis Mary Hamilton. (1999). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta : EGC.

    5. Purnawan,J,dkk ( 1989 ) Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 2, Jakarta : Media Aeusculapius FKUI

    6. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. (2002). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal da Neonatal, jakarta : JNPKKR-POGI.

    7. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. (2002). Ilmu Kebidanan, jakarta : JNPKKR-POGI.

    8. Mochtar, Rustam. (1998).Sinopsis Obstetri : Obstetri fisiologi, obstetri patologi, edisi 2, jakarta : EGC..

    9. http://askep-askeb-kita.blogspot.com/



    lihat artikel selengkapnya - Askep Anak dengan BBLR
    iklan

    ARTIKEL TERKAIT (SILAHKAN KLIK):