IKLAN

IKLAN
Tampilkan postingan dengan label suntik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suntik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Gambaran Pengetahuan Akseptor Kb Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB

iklan
GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”. Dewasa ini, Program Keluarga Berencana (KB) sebagai pilar pertama, telah dianggap berhasil (Saifudin, 2002). Program Keluarga Berencana (KB) adalah bagian yang terpadu (Integral) dalam program Pembangunan Nasional yang bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, sprititual dan sosial budaya penduduk Indonesia (Dep. Kes RI, 1994).
Keluarga Berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kelahiran (Dep. Kes RI, 1994). Metode KB yang dapat digunakan terdiri dari 2 macam yaitu metode sederhana (kondom, spermiside, koitus interuptus, pantang berkala) dan metode efektif (hormonal, mekanis dan metode KB darurat) (Manuaba, 1998).
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan kaum ibu adalah KB suntik, ini disebabkan karena aman, efektif, sederhana dan murah. Cara ini mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan (1983) (Muchtar. R, 2002). Namun demikian KB suntik juga mempunyai banyak efek samping, seperti amenorea (30%), spoting (bercak darah) dan menoragia, seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal lainnya dan dijumpai pula keluhan mual, sakit kepala (<1-17%) style="font-weight: bold;">B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat di rumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur 2010” ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Akseptor KB suntik Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA).
3. Objek penelitian : Pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA)
4. Lokasi penelitian : Dilaksanakan di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur
5. Waktu penelitian : 5 Mei – 7 Juni 2010

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur tahun 2010.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Bidan RB Do’a Ibu Sekampung
Menjadi bahan masukan bagi program kerja bidan untuk meningkatkan konseling yang berkaitan dengan efek samping pada kontrasepsi khususnya kontrasepsi suntik.
2. Instansi Pendidikan Prodi Kebidanan Metro
Sebagai bahan bacaan dan menjadi sumber Pustaka untuk penelitian selanjutnya.
3. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan, khususnya dalam bidang penelitian terhadap “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Efeksamping KB Suntik di RB Do’a Ibu Sekampung”.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Akseptor Kb Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB
iklan

Rabu, 06 April 2011

Karakteristik Akseptor Kb Suntik di Puskesmas Kabupaten

iklan
KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI PUSKESMAS KABUPATEN

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia tahun 2001-2002 di sebutkan bahwa dalam konteks Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, visi MPS adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta yang dilahirkan hidup dan sehat (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Pada tahun 1999, WHO meluncurkan strategi MPS didukung oleh badan-badan internasional seperti UNFAA, UNICEF dan World Bank. Pada dasarnya MPS meminta perhatian pemerintah dan masyarakat di setiap negara untuk menempatkan Safe Motherhood sebagai prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional dan internasional (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Dalam upaya Safe Motherhood, masalah kematian ibu adalah masalah yang kompleks, meliputi hal-hal nonteknis seperti wanita dan pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan intervensi yang mempunyai dampak nyata dalam waktu relatif pendek. Intervensi strategis dalam upaya Safe Motherhood dinyatakan sebagai empat pilar yaitu KB, pelayanan antenatal, persalinan yang aman, pelayanan obstetri esensial. Dari keempat intervensi Safe Motherhood, program KB – sebagai pilar pertama telah dianggap berhasil. Karen penyebab kematian ibu yang terbesar adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Visi paradigma baru program keluarga berencana nasional adalah untuk mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, tanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan misi dari keluarga berencana nasional pada paradigma baru adalah menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi sebagai integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga adalah salah satu dari lima matra kependudukan yang sangat mempengaruhi terwujudnya penduduk yang berkualitas (Sarwono Prawirihardjo, 2003).
Jumlah penduduk di propinsi Lampung adalah 6.983.699 jiwa. Penggunaan kontrasepsi oleh peserta KB baru selama tahun 2005 sangat didominasi oleh suntikan 47,54%, pil 36,70%, Implan 10,55%, IUD 2,55%, kondom 2,34%, MOP/MOW 0,33%. Pada tahun 2005 peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi suntik meningkat sebanyak 47,54% yang sebelumnya 45,83% tahun 2004. Cakupan pengguna kontrasepsi oleh peserta KB aktif terhadap PUS (cenderung berfluktuatif) naik turun. Pada tahun 2003 cakupan pencapaian peserta KB aktif mencapai 70,79%. Meningkat pada tahun 2004 sebesar 72,79% dan menurun pada tahun 2005 sebesar 69,64%. Pada tahun 2005 pengguna kontrasepsi oleh peserta KB aktif didominasi oleh pil 35,92%, suntik 35,08%, IUD 13,01%, implan 12,80%, MOP 2,85%, kondom 0,34% (BKKBN, 2009).

Adapun pengguna kontrasepsi peserta KB baru di daerah ................... tahun 2009 mencapai 28.389 orang, untuk jumlah kontrasepsi suntik 14.863 orang. Pengguna kontrasepsi peserta KB aktif di daerah ................... tahun 2009 adalah 113.817 orang, dan untuk jumlah kontrasepsi suntik 45.771 orang (BKKBN, ..................., 2009).
Data yang diperoleh dari Puskesmas ................... pada tahun 2005 akseptor KB suntik berjumlah 99 orang, pil 83 orang, implant 17 orang, kondom 12 orang, dan pada tahun 2009 akseptor KB suntik masih mendominasi berjumlah 156 orang, pil 100 orang, implant 20 orang, kondom 15 orang, dan untuk IUD dan MOW/MOP tidak ada
Berdasarkan hasil pra survey yang penulis lakukan di Puskesmas ................... Kabupaten ................... jumlah akseptor KB suntik pada bulan Januari-Desember 2005 berjumlah 99 orang. Sedangkan untuk bulan Januari-Desember 2009 akseptor KB suntik berjumlah 156 orang.
Mengacu pada hal tersebut di atas, akseptor KB suntik mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke tahun 2009 sebesar 63%, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang karakteristik ibu akseptor KB suntik di wilayah kerja Puskesmas ................... Kabupaten ....................

B. Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana karakteristik akseptor KB Suntik di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis penelitian : Deskriptif
Subyek : Ibu-ibu akseptor KB suntik di Puskesmas ................... Kabupaten ...................
Objek : karakteristik ibu akseptor KB suntik di Puskesmas ................... Kabupaten ....................
Lokasi penelitian : Puskesmas ................... Kabupaten ...................
Waktu : April-Mei 2010
Alasan : Berdasarkan data pra survey ditemukan adanya peningkatan jumlah akseptor KB suntik di Puskesmas ................... Kabupaten ....................

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB suntik di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB suntik berdasarkan usia ibu di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010.
b. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB suntik berdasarkan tingkat pendidikan ibu di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010
c. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB suntik berdasarkan tingkat ekonomi keluarga ibu di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010
d. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB suntik berdasarkan paritas ibu di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sebagai bahan untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan serta pengalaman agar lebih memahami dan mengerti hal-hal yang berhubungan dengan ibu akseptor KB suntik.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai salah satu bahan masukan bagi tenaga kesehatan untuk menambah pengetahuan mengenai karakteristik akseptor KB suntik yang berada di Puskesmas ................... Kabupaten ................... tahun 2010.
3. Bagi Akademi Kebidanan ............
Sebagai masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa dan menambah sumber referensi di perpustakaan Akbid ............ .............



silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI PUSKESMAS ................... KABUPATEN
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Karakteristik Akseptor Kb Suntik di Puskesmas Kabupaten
iklan

Senin, 04 April 2011

Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Alat Kontrasepsi KB Suntik Di Kelurahan

iklan
KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI
KB SUNTIK DI KELURAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Karenanya, hal itu menjadi kegiatan prioritas Departemen Kesehatan pada periode 2005-2009. prioritas ini adalah pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin; penanggulangan penyakit menular, gizi buruk, dan krisis kesehatan akibat bencana; serta peningkatan pelayanan kesehatan didaerah terpencil, tertinggal dan daerah perbatasan serta pulau-pulau terluar (Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003).
Pada tahun 2000 Indonesia menempati urutan kelima di dunia dalam hal jumlah penduduk (Mochtar, 1998). Pada tahun 2003 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebesar 211.000.598 jiwa dengan tingkat kepadatan 113 jiwa per km2 dan angka pertumbuhan penduduk sebesar 1,59% (jumlah penduduk tahun 2002 dilaporkan sebesar 211.000.598 jiwa) (Depkes RI, 2003)
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan "Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia". Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun. (GNPP-ASI oleh Bapak Presiden tanggal 22 Desember 1990)
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit Sedangkan dari hasil perhitungan data susenas tahun 2004 persentase bayi yang mendapat ASI ekslusif usia 0-6 bulan di Provinsi Lampung sebesar 74,4% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005)
Salah satu kebijakan dalam menanggulangi masalah kependudukan di Indonesia adalah dengan memberikan pengetahuandan pengetahuan tentang kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) secara bertahap agar sikap penerimaan keluarga beras akan dapat diubah lalu dihayati menjadi sikap keluarga kecil menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) (Mochtar, 1998).
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa manfaat KB bagi keluarga sangat besar terutama bagi ibu. Selain itu, KB dan kontrasepsi juga menjamin bahwa bayi akan mendapat nutrisi yang cukup untuk waktu tertentu dengan cara mencegah kehamilan yang terlampau dini setelah melahirkan. Hal ini sangat penting karena ASI merupakan sumber nutrisi dan imunisasi yang paling baik untuk bayi yang sedang tumbuh berkembang dan laktasi juga dapat menunda ferilitas post partum (Hartanto, 2003)
Berdasarkan data di Posyandu Kelurahan Hadimulyo Timur, jumlah ibu menyusui bayi usia 0-6 bulan sebanyak 55 orang yang menggunakan alat kontrasepsi KB suntik. Keterbatasan Pengetahuan ibu menyusui tentang cara menggunakan alat kontrasepsi KB Suntik tersebut selama laktasi dan kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang pengaruh alat kontrasepsi KB Suntik yang digunakan terhadap ASI tersebut merupakan suatu masalah dalam memilih alat kontrasepsi. Data prasurvei bulan April 2008 sebanyak 11 orang ibu menyusui yang menggunakan alat kontrasepsi KB suntik sebanyak 2 orang (18,18 %) di kategorikan baik, 4 orang (36,36 %) di kategorikan cukup, dan 5 orang (72,72 %) di kategorikan kurang.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Bagaimana Pengetahuan Ibu Menyusui tentang Alat Kontrasepsi KB suntik di Kelurahan Hadimulyo Timur.

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana Pengetahuan Ibu Menyusui tentang Alat Kontrasepsi KB Suntik di Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan ....... .......?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam Penelitian ini, penlis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pengetahuanibu menyusui tentang alat kontrasepsi KB Suntik
3. Subjek Penelitian : Semua ibu menyusui bayi umur 0-6 bulan dengan alat kontrasepsi KB Suntik
4. Lokasi Penelitian : Pustu dan Posyandu Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan ....... .......
5. Waktu Penelitian : Bulan Mei 2010
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui Pengetahuan ibu menyusui tentang alat kontrasepsi.
2. Tujuan Khusus.
a. Untuk mengetahui Pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian kontrasepsi KB Suntik.
b. Untuk mengetahui Pengetahuan ibu menyusui tentang jenis kontrasepsi KB Suntik.
c. Untuk mengetahui Pengetahuan ibu menyusui tentang keuntungan dan kerugian alat kontrasepsi KB Suntik
d. Untuk mengetahui Pengetahuan ibu menyusui tentang efek samping kontrasepsi.
e. Untuk mengetahui pengetahuan ibu menyusui tentang waktu menggunakan kontrasepsi KB Suntik.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai pengetahuan ibu menyusui tentang alat kontrasepsi KB Suntik di kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan ....... ......., sehingga pengetahuan dan wawasan kebidanan dapat bertambah serta sebagai penerapan ilmu yang didapat oleh peneliti.
2. Bagi Ibu Menyusui
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan ibu menyusui tentang alat kontrasepsi sehingga ibu dapat mengetahui alat kontrasepsi khususnya KB suntik.
3. Bagi Posyandu Hadimulyo Timur
Sebagai masukan dalam meningkatkan pengetahuan ibu menyusui tentang alat kontrasepsi KB Suntik.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sumber referensi, berkaitan dengan pengetahuan tentang alat kontrasepsi KB Suntik.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK DI KELURAHAN
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Alat Kontrasepsi KB Suntik Di Kelurahan
iklan

ARTIKEL TERKAIT (SILAHKAN KLIK):