IKLAN

IKLAN
Tampilkan postingan dengan label kesehatan reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan reproduksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa SMAN tentang Pendidikan Seks (Sex Education)

iklan
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMUN 1 ..... TENTANG PENDIDIKAN SEKS (SEX EDUCATION)

B A B I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dewasa ini kehidupan seks bebas telah merebak ke kalangan kehidupan remaja dan anak sehingga pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi yang lebih trendnya sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja baik malalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja (Syarif, 2008: 39).
Berdasarkan kesepakatan International di Kairo 1994 (The Cairo Consensus) tentang kesehatan reproduksi yang berhasil ditandatangani oleh 184 negara termasuk Indonesia, diputuskan tentang perlunya pendidikan seks bagi para remaja. Dalam salah satu butir konsensus tersebut ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para remaja (Syarif, 2008: 39)
Sementara meninjau berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul pro kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masih berpandangan stereotype dengan pendidikan seks seolah sebagai suatu hal yang vulgar (Syarif, 2008: 39).
Menurut Sofyan, selaku senior Koordinator Central Mitra Remaja (CMR) yang merupakan salah satu unit kegiatan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan, selama ini jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbersit dalam benak sebahagian orang adalah hubungan seks. Padahal, seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan antara cowok dan cewek atau laki-laki dan perempuan secara biologis (Syarif, 2008: 40)

Dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI 1997) menyebutkan, dari 1563 perempuan usia subur, terdapat 5 0,9% melakukan aborsi secara sengaja pada usia 15-19 tahun, sekitar 11,9% melakukan secara tradisional ataupun medis. Cara tradisional yang digunakan untuk aborsi adalah meminum jamu atau ramuan tradisional, jumlah pelakunya sekitar 27,5%. Sementara itu dari penuturan yang disampaikan oleh Mestika (1996) yang merangkum dari hasil penelitian para pengamat masalah sosial remaja dibeberapa kota besar antara lain: Sarwono (1970) meneliti 117 remaja di Jakarta dan menemukan bahwa 4,1% pernah melakukan hubungan seks. Beberapa tahun kemudian, Eko (1983) meneliti 461 remaja dan dari penelitian ini diperoleh data bahwa 8,2% diantaranya pernah melakukan hubungan seks dan 10% diantaranya menganggap bahwa hubungan seks pranikah adalah wajar. Di Semarang, Satoto (1992) mengadakan penelitian terhadap 1086 responden pelajar SMP-SMU dan menemukan data bahwa 4,1% remaja putra dan 5,1% remaja putri pernah melakukan hubungan seks. Pada tahun yang sama Tjitara mensurvei 200 remaja yang hamil tanpa dikehendaki. Survei yang dilakukan Tjitara juga memaparkan bahwa mayoritas berpendidikan SMA ke atas, 23% diantaranya berusia 15-20 tahun dan 77% berusia 20-25 tahun (Syarif, 2008: 41)
Dengan begitu banyaknya faktor yang menyebabkan efek pornografi membuat remaja terjerumus ke alam bebas yang tidak bertanggung jawab misalnya, film layar lebar, VCD, DVD, media cetak, sampai assesoris yang mudah didapatkan bahkan tayangan televisipun saat ini mengarah kepada hal yang seperti itu dan juga belum lancarnya komunikasi remaja dengan orang tua yang menyangkut soal seks. Dari data survei yang diambil oleh Synovate Research ke 450 responden dan 4 kota dengan kisaran usia antara 15-24 tahun, mengungkapkan bahwa sekitar 65% informasi tentang seks, mereka dapatkan dari kawan, dan 30% sisanya dari film porno. Ironisnya hanya 5% dari resdponden remaja ini mendapat informasi tentang seks dari orang tuanya ((Syarif, 2008: 41).
Kurangnya pengetahuan seks dan kehidupan remaja serta adanya data dan adanya tanggapan bahwa pendidikan seks adalah tabu membuat para remaja bukan menjadi takut tetapi mereka lebih ingin mencari tahu sendiri melalui informasi-informasi yang mudah mereka dapatkan melalui kaset VCD, film layar lebar, gambar-gambar dan masih banyak lagi. Hal tersebut membuat remaja menjadi penasaran dan terdorong untuk melakukan hubungan seksual di luar nikah tanpa melihat akibat-akibat yang akan ditimbulkan.
Hasil penelitian yang dilakukan Armelia, (2007) mengenai pengetahuan siswa tentang pendidikan seks di SMU Kristen Tentena dari 58 responden
didapatkan siswa yang memiliki pengetahuan baik 51,7% dan yang memiliki pengetahuan yang kurang baik adalah 48,3%.
SMUN 1 .......... merupakan sekolah yang terluas di daerah .......... serta belum pernah dilakukan penelitian dan belum pernah diadakan penelitian tentang pendidikan seks untuk itu peneliti tertarik melakukan penelitian di tempat ini, dan ingin mendapatkan gambaran yang jelas dan akurat mengenai pengetahuan dan sikap remaja tentang pendidikan seks (Sex Education).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk lebih mengetahui “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa SMUN 1 .......... Tentang Pendidikan Seks (Sex Education) Tahun 2010”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMUN 1 .......... tentang pendidikan seks (Sex Education) Tahun 2010.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMUN 1 .......... tentang pendidikan seks (Sex Education).
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya tingkat pengetahuan siswa SMUN 1 .......... tentang pendidikan seks (Sex Education).
b. Diketahuinya sikap siswa SMUN 1 .......... tentang pendidikan seks (Sex Education).

D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Manfaat bagi institusi
Sebagai bahan masukan kepada institusi untuk memberikan informasi tentang pentingnya pendidikan seks di sekolah.
2. Manfaat bagi peneliti berikutnya
Sebagai bahan referensi atau data bagi penelitian selanjutnya.
3. Manfaat bagi penulis
Menambah pengetahuan dan memperluas wawasan keilmuan terhadap pendidikan seks (Sex Education).
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMUN 1 .......... pada bulan Juli 2010.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMUN 1 ..... TENTANG PENDIDIKAN SEKS (SEX EDUCATION)
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka, kuesioner)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan dan Sikap Siswa SMAN tentang Pendidikan Seks (Sex Education)
iklan

Perbedaan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja pada Siswa SMP dan MTs

iklan
KTI KEBIDANAN
PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PADA SISWA SMP DAN MTS

ABSTRAK

Perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan siswa MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009
xii + 71 halaman, 13 tabel, 6 gambar, dan 4 lampiran.

Masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja di Indonesia masih terabaikan. Perubahan sikap dan perilaku seksual remaja pranikah ini akan memberikan dampak buruk terhadap kehidupan mereka. Berdasarkan hasil pengamatan di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas ............... didapat data pada tahun 2008 dari 51 hasil pemeriksaan kesehatan (keuring) calon pengantin wanita, 9,80% dalam keadaan hamil. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan uji x2 dan uji t.
Hasil analisis univariat, antara siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............., siswa SMPN ............... yang berpengetahuan baik lebih banyak (69,6%), siswa MTS ............. yang bersikap baik lebih banyak (88,2%), dan siswa MTS ............. yang berperilaku baik lebih banyak (88,2%). Hasil analisis bivariat dengan uji t tingkat pengetahuan p value 0,00 dan sikap p value 0,00.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap perilaku kesehatan reproduksi yang bermakna (p value 0,00), dan terdapat perbedaan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi yang bermakna terhadap perilaku kesehatan remaja pada siswa SMPN 2 ............... dengan siswa MTS .............. Sehingga penulis memberikan saran bagi SMPN 2 ............... agar lebih meningkatkan pendidikan agama, bagi MTS ............. agar meningkatkan pendidikan kesehatan reproduksi remaja, bagi UPT Puskesmas ............... agar meningkatkan pelayanan kesehatan remaja, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas, dan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten ......... agar mem-fasilitasi peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan reproduksi remaja.

Kata Kunci : Pengetahuan, sikap, perilaku, kesehatan reproduksi, remaja.
Daftar bacaan : 19 ( 1980 – 2009)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fenomena transisi kependudukan sebagai konsekuensi pembangunan menyebabkan perubahan pada struktur kependudukan terutama struktur penduduk menurut umur. Bila sebelumnya penduduk yang terbesar adalah anak-anak, maka dalam masa transisi ini proporsi penduduk usia remaja semakin besar. Pada akhir abad ke-20 terdapat 36.600.000 (21% dari total penduduk) remaja di Indonesia dan diperkirakan jumlahnya mencapai 43.650.000 pada awal abad ke-21 ini. Jumlah remaja yang tidak sedikit ini merupakan potensi yang sangat besar dalam melanjutkan pembangunan Indonesia. (Notoatmodjo, 2007).
Meskipun begitu, adanya berbagai upaya pembangunan yang dilakukan menyebabkan perubahan pada seluruh aspek kehidupan termasuk kehidupan remaja. Salah satu dampak adalah terjadinya perubahan yang mendasar yang menyangkut sikap dan perilaku seksual pranikah di kalangan remaja. Dan perubahan tersebut telah menjadi salah satu masalah yang memprihatinkan masyarakat Indonesia seperti satu dari 5 anak pertama yang dilahirkan oleh wanita menikah pada usia 20-24 tahun merupakan hasil hubungan seksual sebelum menikah. Maraknya pemberitaan di media massa mengenai perilaku menyimpang seksual remaja menggambarkan semakin besarnya masalah perilaku seksual remaja (Notoatmodjo, 2007).
Penataan perilaku seks remaja tidak sehat menuju perilaku seks sehat dan bertanggungjawab harus segera dilakukan dan ditindaklanjuti dengan melibatkan banyak pihak seperti pendidik, petugas kesehatan, psikolog, orang tua dan aktivis LSM yang konsen di kesehatan reproduksi remaja ditunjang dengan pendidikan agama karena pendidikan agama yang kuat akan lebih menghindarkan remaja dari perilaku seks yang tidak sehat (Wijanarko, 2002). Solusi lainnya yakni melalui program promotif, preventif dan kuratif, antara lain dengan pelatihan kepada remaja perempuan untuk berkata `tidak` jika diajak berhubungan seks oleh pacarnya, layanan kesehatan yang ramah dan bisa diakses secara mudah oleh para remaja, memperbaiki komunikasi antar orangtua dan anak dan pendekatan secara agama baik di sekolah maupun luar sekolah (Laazulva, 2004).
Masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja di Indonesia masih terabaikan, ini terlihat dari banyaknya kasus kehamilan di luar nikah, kekerasan masa pacaran, dan aborsi dengan obat-obatan yang beresiko tinggi. Data konseling kehamilan tidak dikehendaki selama 2004 di Jawa Barat menunjukkan 560 kasus reproduksi dengan proporsi usia di bawah 18 tahun mencapai 10,89 % (Laazulva, 2004).
Di Kabupaten ......... berdasarkan hasil survey kesehatan remaja tahun 2008 terhadap siswa SLTP dan SLTA dari 12.742 responden 0,64% responden melakukan hubungan seks, 0,77% responden melakukan petting, 2,56% responden saling meraba anggota badan yang sensitif, 2,86% melakukan necking, 6,62% berciuman bibir, 9,85% responden mencium pipi/kening, 12,11% saling berpelukan/saling merangkul, 23,53% responden berpegangan tangan, dan 41,06% responden hanya mengobrol selama masa pacaran. Berdasarkan tingkat pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi, 41,71% responden berpengetahuan baik dan 58,29% responden berpengetahuan kurang (Dinas Kesehatan Kabupaten ........., 2009).
Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan sementara penulis di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas ............... Kecamatan ............... Kabupaten ......... didapat data bahwa pada tahun 2008 dari 51 hasil pemeriksaan kesehatan (keuring) terhadap calon pengantin, 5 orang (9,80%) calon pengantin wanita dalam keadaan hamil (UPT Puskesmas ..............., 2009).
Adanya perubahan sikap dan perilaku seksual remaja pranikah ini tentunya akan memberikan dampak terhadap kehidupan mereka. Hamil di luar nikah, melahirkan anak di usia muda atau melakukan aborsi, tertular penyakit seksual, dan disidang di persidangan sosial masyarakat yang dialami remaja karena perilaku seksual yang menyimpang akan menyebabkan mereka yang semula diharapkan menjadi subjek pembangunan justru akan menjadi beban yang sangat berat dari pembangunan itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang gambaran perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 ............... dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) ............. Kecamatan ............... Kabupaten ..........

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil pengamatan sementara penulis di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas ............... Kecamatan ............... Kabupaten ......... didapat data bahwa pada tahun 2008 dari 51 hasil pemeriksaan kesehatan (keuring) terhadap calon pengantin, 5 orang (9,80%) calon pengantin wanita dalam keadaan hamil maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : Adakah perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
b. Diketahuinya sikap kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten 9 tahun 2009.
c. Diketahuinya perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
d. Diketahuinya hubungan pengetahuan terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
e. Diketahuinya hubungan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
f. Diketahuinya perbedaan pengetahuan terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.
g. Diketahuinya perbedaan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memperoleh hasil penelitian baru tentang gambaran kesehatan reproduksi remaja sehingga dapat dijadikan sebagai perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Untuk dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya menurunkan dampak buruk yang ditimbulkan akibat perilaku seksual pranikah remaja.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian di bidang ilmu perilaku terutama mengenai perilaku kesehatan reproduksi dengan masalah yang diteliti adalah perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMPN 2 ............... dan MTS ............. Kecamatan ............... Kabupaten ......... yang dilaksanakan dari tanggal 14 Mei 2009 sampai dengan 13 Juli 2009.


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PADA SISWA SMP DAN MTS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka) plus Proposal dan presentasi
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Perbedaan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja pada Siswa SMP dan MTs
iklan

Sabtu, 16 April 2011

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV-AIDS di SMU

iklan
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA
TENTANG HIV-AIDS DI SMU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kasus IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS cukup banyak terjadi dikalangan remaja. Berbagai jenis IMS serta HIV/AIDS sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang pada umumnya dan kondisi kesehatan reproduksi pada khususnya karena pada umumnya berbagai infeksi IMS dan HIV/AIDS berkaitan langsung dengan sistem reproduksi manusia. Bahkan HIV/AIDS dapat berdampak kematian.1 Dalam banyak kesempatan diskusi dan seminar mengenai HIV/AIDS sering para pakar menyebut fenomena gunung es ditengah pandemi HIV, artinya dari seluruh data yangdapat diungkap sesungguhnya tersembunyi masalah yang jauh lebih besar. Misalnya kita mengungkap 100 data penderita HIV maka mungkin saja angka realnya bisa mencapai 100 atau sampai 1000 kali lipat.
Sangat sedikit kaum muda yang memiliki pengetahuan memadai dan benar tentang IMS termasuk HIV/AIDS padahal pengetahuan tersebut dibutuhkan untuk terhindar dari risiko penularan dan tidak diskriminatif kepada penderita AIDS. Dari data yang didapat dari UNAIDS (United Nation for AIDS) pada akhir tahun 2004 didunia diperkirakan terdapat 39,4 juta orang penderita HIV/AIDS. Menurut laporan United Nations Population Fund, HIV banyak menjangkiti remaja putri. Diperkirakan diseluruh dunia yang terjangkit penyakit HIV/AIDS 7,3 juta wanita muda dan 4,5 juta pria muda. Kalangan remaja dunia dewasa ini ibarat hidup dalam era HIV/AIDS. Laporan itu juga menyebutkan bahwa sebagian kasus baru HIV/AIDS telah menyerang remaja usia 15 – 24 tahun. Dilaporkan bahwa setiap 14 detik, satu orang remaja terinfeksi virus HIV/AIDS. Setiap hari sekitar 6000 orang berusia 15 – 24 tahun tercatat sebagai penderita baru HIV. Sebanyak 87 % pengidap HIV/AIDS hidup dinegara miskin dan berkembang. Banyak kalangan remaja tidak mempunyai informasi mengenai kesehatan, pencegahan kehamilan, HIV/AIDS serta infeksi yang ditimbulkan akibat hubungan seks. Sebagaimana disadari bahwa jumlah penduduk Indonesia dewasa ini mencapai 210 juta orang. Yang disebut remaja kira-kira 30 %. Terancamnya generasi muda dunia oleh penyakit HIV/AIDS, juga tidak terluput mengancam generasi muda indonesia. 2
Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada April 1987 (pada seorang Wisatawan Belanda, kebetulan seorang Gay, yang akhirnya meninggal di sebuah Rumah Sakit di Denpasar Bali). Pemerintah Indonesia memungkiri kasus tersebut sebagian masyarakat juga melakukan hal yang sama, apalagi kasusnya adalah Wisatawan Asing. Di Indonesia yang dikenal begitu menjunjung tinggi budaya dan norma-norma ketimuran, ternyata HIV/AIDS juga sudah berkembang dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut Elisabeth Pisani, seorang Epidemiologis dari ASA (Aksi Stop AIDS), sebuah kelompok yang peduli terhadap AIDS sebagaimana dikutip AFP (AIDS Found Populations) “Indonesia adalah salah satu negara yang peningkatan Epidemi HIV/AIDS nya paling cepat didunia”. 3
Di Indonesia penyakit HIV/AIDS meningkat cukup tajam dari tahun ke tahun. Sejak kasus pertama diBali 1987, enam tahun kemudian (desember 1993) dilaporkan telah ditemukan di 12 propinsi dengan jumlah penderita AIDS sebanyak 49 orang dan HIV (+) 193 orang. Pada bulan Maret 2002 dilaporkan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia berjumlah 2950 orang. 4
Hingga Juni 2004 jumlah kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 15 – 19 tahun berjumlah 167 orang dan usia 20 – 29 tahun berjumlah 1.225 orang. Sementara jumlah total semua usia adalah 4389 kasus HIV/AIDS. Banyaknya jumlah remaja penderita HIV/AIDS diduga karena keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan bagi remaja yang berdampak pada rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS yang benar dan menyeluruh dikalangan remaja berusia 15 – 24 tahun.5 Pada tahun 2002 – 2003 Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menemukan sekitar 34% remaja putri dan 21% remaja pria berusia 15 – 24 tahun belum pernah mendengar tentang HIV/AIDS.6 Dari Juni 2004 hingga akhir Juni 2005 jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia adalah sebanyak 7098 kasus, benar-benar diluar dugaan, dalam kurun waktu satu tahun telah terjadi peningkatan sebanyak 2709 kasus. 3
Salah satu propinsi yang memiliki jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi di Indonesia adalah Papua. Data terakhir Dinas Kesehatan Propinsi Papua per 30 September 2005, menyebutkan angka HIV/AIDS di Papua mencapai 2134 kasus. Dengan perincian sebanyak 1202 kasus HIV dan 932 kasus AIDS, serta 289 diantaranya sudah meninggal. Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kasus HIV/AIDS terbanyak justru ada pada usia produktif ( 15 – 39 tahun ), yakni sekitar 79%, pada kelompok umur 20 – 29 tahun yaitu 879 kasus, umur 30 – 39 tahun 530 kasus dan umur 15 – 19 tahun 189 kasus. 7
Di Lampung berdasarkan survei tentang HIV/AIDS yang hanya dilakukan didaerah endemis didapat data, tahun 2001 ada 18 kasus, tahun 2002 ada 10 kasus, tahun 2003 ada 31 kasus, dan ditahun 2004 ada 21 kasus. Tahun 2002 RSUAM (Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek) melaporkan ada pasien meninggal karena AIDS.8
Dari hasil pra survey yang telah penulis lakukan dengan mengajukan 6 pertanyaan lisan tentang HIV/AIDS, dari 10 orang siswa/I yang diajukan pertanyaan, 60% dari mereka hanya bisa menjawab 2 – 3 pertanyaan dan 40%nya bisa menjawab 4 – 5 pertanyaan saja. Alasan mereka tidak tahu karena mereka tidak pernah mendapatkan informasi dari sumber yang benar dan tidak adanya tempat atau layanan khusus remaja dimana mereka bisa menanyakan tentang hal-hal seperti itu. Karena pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS yang sedikit tersebut penulis juga ingin mengetahui bagaimana gambaran sikap mereka tentang HIV/AIDS. Karena cara bersikap terhadap suatu objek juga ditentukan dari pengetahuan tentang objek tersebut.
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan dan sikap Remaja tentang HIV/AIDS di SMU Negeri I ............ ............ 2010.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dilihat masih banyaknya jumlah remaja penderita HIV/AIDS diduga karena keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan bagi remaja yang berdampak pada rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS yang benar dan menyeluruh dikalangan remaja berusia 15 – 24 tahun.

1.3 Rumusan Masalah
Rumuskan masalah dalam penelitian ini, Bagaimana Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS di SMU Negeri 1 ............ ............ Tahun 2010.

1.4 Pertanyaan penelitian
Dari uraian latar belakang tersebut diatas, maka dibuat pertanyaan penelitian sebagai berikut:
Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMA N 1 ............ ?.

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMU Negeri 1 .............
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang pengertian HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.2 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang etiologi/penyebab HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.3 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang patogenesis/penularan HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.4 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang manifestasi/gejala HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.5 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang pemeriksaan penunjang untuk HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.6 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang pencegahan untuk HIV/AIDS di SMU N 1 ............
1.4.2.7 Untuk mengetahui sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMU N 1 ............

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1.5.1 Institusi Pendidikan Tempat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi SMU Negeri 1 .............
1.5.2 Akademik
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi mahasiswa tentang Tingkat Pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.
1.5.3 Peneliti
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah serta menambah pengalaman dalam bidang penelitian khususnya mengenai HIV/AIDS.
1.5.4 Masyarakat Khususnya Remaja
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan masyarakat khususnya remaja mengenai HIV/AIDS.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian
1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif
1.7.2 Objek penelitian : HIV/AIDS
1.7.3 Subjek Penelitian : Remaja di SMU Negeri 1 ............
1.7.4 Lokasi Penelitian : SMU Negeri 1 ............
1.7.5 Waktu Penelitian : Januari – Mei 2010
1.7.6 Alasan Penelitian : Untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan Remaja tentang HIV/AIDS.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV-AIDS DI SMU
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV-AIDS di SMU
iklan

Gambaran Pengetahuan Remaja Usia 17-20 tahun tentang Hak-hak Reproduksi di SMK 2

iklan
 kti-skripsi.com

ABSTRAK
Gambaran Pengetahuan Remaja Usia 17-20 Tahun
Tentang Hak-hak Reproduksi di SMAN 3 ......

Pada masa remaja informasi mengenai hak reproduksi sudah seharusnya mulai diberikan agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas. Faktor utama yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak reproduksi remaja adalah karena tingkat pengetahuan yang kurang bisa menyebabkan misalnya kasus perdagangan prostitusi, kehamilan tidak dihendaki pada remaja. Pada remja akhir usia 17-20 tahun sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh seperti orang dewasa,mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkan dalam bentuk pacaran. Pada fenomena yang ditemukan di SMAN 3 ...... terdapat 15 orang pernah mengalami pelecehan seksual, 2 orang pernah seks pranikah, 8 orang tidak mengetahui apa infeksi menular seksual.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahun remaja usia 17-20 tahun tentang hak-hak reproduksi di SMAN 3 .
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif. Populasi yang dgunakan adalah semua remaja usia 17-20 tahun di SMAN 3 ...... sebanyak 500 orang.Sedangkan sampel yang digunakan adalah 15% dari seluruh remaja didapatkan 75 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik sampling yang digunakan yaitu sampling. Untuk pengambilan datanya yaitu menyebar kuesioner pada 75 responden, setelah diisi pada saat itu juga lansung diambil oleh peneliti
Data hasil didambil dengan kuesioner. Setelah itu ditabulasi dan dianalisis kemudian didapatkan hasil penelitian yaitu sebagian besar remaja memiliki pengetahuan yang kurang tentang hak-hak reproduksi.
Kata kunci: Pengetahuan, remaja, hak-hak reproduksi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada masa remaja, informasi mengenai hak reproduksi sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas. Dengan banyaknya persoalan kesehatan reproduksi remaja, maka pemberian informasi, layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja jadi sangat penting. Sebut saja, misalnya, kasus-kasus yang banyak dialami remaja saat ini, perdagangan (trafficking) remaja perempuan, prostitusi remaja, kehamilan tidak dihendaki (unwanted pregnan), aborsi tidak aman (unsave abortion), pelecehan seksual, perkosaan remaja, dan penganiayaan anak ( Child Abuse). ( Efrie Christanto, 2005)
Informasi tentang hak-hak reproduksi sangat sedikit sekali yang didapatkan remaja padahal seharusnya sudah didapat dari lingkungan rumah atau keluarga.(Erni N, 2008) Perlunya menyadari hak-hak reproduksi agar kita menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita ya seharusnya kita sendiri, bukan orang tua, pacar, atau teman. Dengan menyadari hal itu kita tidak mudah menjadi korban berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita. Remaja sulit mendapat hak atas informasi, hak atas pemberdayaan, hak atas pelayanan kesehatan reproduksi, sehingga menderita infeksi, hamil, mengalami pelecehan atau kekerasan seksual (Ilyani A S, 2002).
Dari survey yang dilakukan Yuoth Center Pilar PKBI Jawa Tengah (2004) pada remaja di Semarang tentang pengetahuan proses terjadinya bayi, keluarga berencana, cara-cara pencegahan HIV/AIDS, anemia, cara-cara merawat organ reproduksi dan pengetahuan fungsi organ reproduksi,diperoleh informasi bahwa 43,22% pengetahuannya rendah, 37,28% pengetahuannya cukup, sedangkan 19,50% pengetahuan nya memadai. ( Farid Husni, 2005)
Pada tahun 2007 di Surabaya Jawa Timur menurut catatan LSM kelompok Pro Demokrasi (KPPD) Samitra Abhaya terdapat 181 (27,3%) kasus pemerkosaan, 25 (3,8%) kasus pelecehan seksual, 88 (13,3%) kasus kekerasan masa pacaran, 44 (6,6%) kasus trafficking.
Faktor-faktor utama yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak reproduksi remaja adalah karena tingkat pengetahuan yang kurang terhadap seksualitas, terbatasnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan ketidak terjangkauan remaja terhadap akses pelayanan kesehatan reproduksi, disamping pelayanan tidak memadai, serta sikap negatif terhadap anak perempuan dan tentu saja tindakan diskriminatif terhadap mereka. Remaja perlu menyadari hak-hak reproduksinya agar tidak mudah menjadi korban atas berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa, sehingga kita bisa memperjuangkan dan membela diri dari orang lain yang akan melanggar hak kita. (Ilyani A S, 2002)
Tidak terpenuhinya hak-hak kesehatan reproduksi remaja pada akhirnya tidak saja mengakibatkan mereka mengalami kesulitan dalam menangani masalah seksualitas tetapi juga mengahadapi para pelanggar hak-hak reproduksi. Pemerintah harus merancang program informasi yang terjangkau, melalui kampanye kesehatan umum, media, membuka konsultasi-konsultasi dan mengembangkan pendidikan karena pemerintah mempunyai kewajiban untuk memudahkan semua orang memperoleh informasi dan pelayanan yang memadai agar mereka dapat melaksanakan fungsi reproduksinya secara sehat, aman dan terjangkau. (Kartono M, 1998)
Dari fenomena yang ada di SMAN 3 Muhamadiyah pada 20 orang terdapat 8 (40%) pernah mengalami pelecehan seksual, 6 (3 0%) tidak mengerti IMS (Infeksi Menular Seksual),dan tidak ada seks pranikah,untuk yang di SMK Taman Siswa terdapat 9 (45%) pernah mengalami pelecehan seksual, 1(5%) seks pranikah, 3(15%) tidak mengetahui IMS (Infeksi Menular Seksual), di SMK 1 terdapat 10(50%) mengalami pelecehan seksual, tidak ada seks pranikah, 6(30%) tidak mengetahui IMS (Infeksi Menular Seksual), di SMAN 3 terdapat 15(75%) mengalami pelecehan seksual, 2(10%) seks pranikah, 8(40%) tidak mengetahui IMS. Pada remaja akhir usia 17-20 tahun sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh seperti orang dewasa. Mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkan dalam bentuk pacaran. Perkembangan moral masa ini telah mencapai dimana seseorang individu dalam mengambil keputusan akan disadarkan pada pengertiannya tentang norma-norma dalam masyarakatnya dan pengetiannya tentang hak- haknya. (Soetjiningsih, 2004)
Dari masalah-masalah kesehatan reproduksi remaja diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Gambaran Pengetahuan Remaja Usia 17-20 Tahun Tentang Hak-hak Reproduksi di SMAN 3 ......”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah ”Bagaimanakah Pengetahuan Remaja Tentang Hak-Hak Reproduksi Remaja Usia 17-20 Tahun di SMAN 3 ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pegetahuan remaja usia 17-20 tahun tentang hak-hak reproduksi di SMAN 3 .......
1.3.2 Tujuan Khusus
Mengidentifikasi pengetahuan remaja usia 17-20 tahun tentang hak-hak reproduksi di SMAN 3 ...... yang meliputi :
1. Hak untuk mendapat informasi kesehatan reproduksi.
2. Hak untuk mendapat perlindungan dalam kesehatan reproduksi.
3. Hak untuk merencanakan keluarga.
4. Hak atas kebebasan dari diskriminasi.

1.3 Manfaat Penelitian
1.3.1 Bagi Peneliti
Untuk memberi motivasi dalam memberikan pelayanan kesehatan
yang benar sesuai dengan hak-hak reproduksi remaja.
1.3.2 Bagi Institusi Pendidikan
1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa kebidanan tentang hak-hak reproduksi yang harus diketahui remaja dalam memberikan bimbingan dan konseling dalam lingkup kebidanan.
2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang permasalahan kehidupan remaja dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi
1.3.3 Bagi Instansi Penelitian
Hasil penelitian dapat dijadikan bahan evaluasi bagi instansi atau tempat penelitian untuk lebih mengarahkan pendidikan pada kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi remaja.
1.3.4 Bagi Pembaca
Memberi wawasan dan informasi mengenai pengetahuan tentang hak-hak reproduksi.

silahkan download dalam bentuk dokumen word
KTI KEBIDANAN
http://GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA USIA 17-20 TAHUN TENTANG HAK-HAK REPRODUKSI DI SMK 2
(isi: abstrak, Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka, kuesioner)
KLIK DIBAWAH

lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Remaja Usia 17-20 tahun tentang Hak-hak Reproduksi di SMK 2
iklan

Gambaran Kekerasan dalam Pacaran pada Remaja Usia 17 – 21 tahun di Program Studi Kebidanan

iklan
ABSTRAK
Gambaran Kekerasan dalam Pacaran Pada Remaja Usia 17 – 21 Tahun di
Program Studi Kebidanan

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak – anak menuju dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Dalam kehidupan sosial remaja, mereka mulai tertarik pada lawan jenisnya dan mulai pacaran. Banyak orang tidak sadar bahwa dibalik indahnya pacaran ternyata tidak lepas dari hal-hal yang mengarah pada kekerasan yang populer disebut kekerasan dalam pacaran.
Kekerasan dalam pacaran (KDP) atau dating violence adalah perilaku atau tindakan seseorang yang dapat digolongkan sebagai tindakan kekerasan dalam percintaan atau pacaran bila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan pasangannya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh mahasiswa Program Studi Kebidanan ....... Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan angket, setelah data terkumpul diberi kode responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 116 responden yang diteliti didapatkan hasil 28,4 % mengalami kekerasan fisik dalam pacaran, 50,9 % mengalami kekerasan seksual dalam pacaran, 86,2 % mengalami kekerasan emosional dalam pacaran dan 22,4 % mengalami kekerasan ekonomi dalam pacaran.
Kata kunci :Remaja, pacaran, kekerasan dalam pacaran.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, Elizabeth B. 1999 : 206). Banyak hal yang terjadi dalam masa remaja salah satu yang menarik adalah trend pacaran (http://www.cumacewe.com). Pacaran sebagai proses dua manusia lawan jenis untuk mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan sebagai persiapan sebelum menikah, untuk menghindari terjadinya ketidakcocokkan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing-masing berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa (http://www.balipost.com). Indahnya romantika pacaran sudah menghipnotis remaja sampai mereka lupa bahwa dibalik indahnya pacaran, kalau tidak hati – hati justru akan terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan atau bahkan akan menjadi cerita yang tidak akan terlupakan seumur hidup (http://www.cumacewe.com). Karena dalam pacaran, ternyata tidak lepas dari hal-hal yang berbau kekerasan (http://www.balipost.com).
Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidak mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal – hal yang indah, dimana setiap hari diwarnai oleh
manisnya tingkah laku dan kata – kata yang dilakukan dan diucapkan pacar (http://situs.kespro.info/gendervaw). Orang sering tidak sadar sebuah hubungan pacaran dapat berubah menjadi tidak sehat dan dipenuhi kekerasan. Jika dalam kehidupan berumah tangga dikenal ada KDRT, dalam pacaran istilah itu disebut dengan KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) (http: //www.balipost.com).
KDP atau dating violence adalah perilaku atau tindakan seseorang yang dapat digolongkan sebagai tindakan kekerasan dalam percintaan atau pacaran, bila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan pasangannya (http://immunnes.blogspot.com). Kekerasan yang terjadi terdiri dari beberapa jenis, misalnya serangan terhadap fisik, emosional, ekonomi dan seksual (http://situs.kespro.info/gendervaw). Terlepas akibat kekerasan itu dapat terlihat langsung atau baru tampak kemudian, tetapi yang jelas dampak kekerasan seperti gangguan kesehatan, hilangnya konsep diri dan rasa percaya diri akan menghambat perempuan korban kekerasan untuk berpartisipasi secara optimal dalam masyarakat. WHO memperkirakan perempuan yang mengalami kekerasan akan kehilangan 50 % produktivitasnya (http://www.rahima. or. id).
Salah satu penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa dari 77 remaja, 66 % dari mereka mengaku mengalami kekerasan saat sedang berpacaran (http://situs.kespro.info/gendervaw). Dalam sebuah diskusi mengenai KDP, 70% remaja putri melaporkan mendapatkan pelecehan waktu pacaran, sedangkan remaja putra dalam kesempatan yang sama mengaku mendapat pelecehan dari pacarnya adalah sebesar 27% (http://situs.kespro.info/gendervaw). Kemudian menurut data yang terkumpul di Komnas perempuan selama kurun waktu tiga tahun, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mengalami pertambahan yang sangat memprihatinkan menjadi 20,391 kasus (2005). Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2004 (14.020 kasus), 2003 (5.934 kasus), dan 2002 (5.163 kasus) (http://www.rahima.or.id). Sepanjang tahun 2005 tercatat sebanyak 20.39 1 kasus, 3,82 % di antaranya atau sekitar 635 kasus adalah KDP (http://immunnes.blogspot.com).
Menurut catatan LSM Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Samitra Abhaya, kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Timur selama 2007 sebesar 664 kasus, 88 (13,3%) adalah kasus kekerasan dalam pacaran (http://www.d-infokom-jatim.go.id). Berdasarkan hasil wawancara tanggal 23 April 2010 dengan bapak Mudjiadi selaku Kanit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polresta ......, pada awal tahun 2010 ini saja sudah ada 1 kasus kekerasan dalam pacaran yang berupa kekerasan seksual. Jumlah sebenarnya bisa jadi lebih banyak sebab korban KDP enggan melaporkan kekerasan yang dialaminya (http://immunnes.blogspot.com). Kasus yang tampak hanya kasus – kasus yang dilaporkan atau tanpa sengaja terbukti dan diketahui. Dalam hal ini yang tampak berupa fenomena gunung es (iceberg), dimana kasus sebenarnya masih jauh lebih besar lagi, namun banyak hal yang membuatnya tidak muncul ke permukaan (http://indomcusa.com).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 03 April 2010 di Program Studi Kebidanan ...... terhadap 20 mahasiswa yang berada pada rentang usia 17 – 21 tahun, didapatkan 19 mahasiswa mengaku pernah mengalami kekerasan dalam pacaran dan hanya 1 mahasiswa yang tidak pernah mendapat kekerasan saat sedang pacaran. Dari pendataan tanggal 29 April 2010 di Universitas Kadiri Jurusan Kebidanan, dari 20 mahasiswa, ada 14 mahasiswa yang pernah mendapatkan kekerasan dalam pacaran, 6 mahasiswa tidak pernah. Sedangkan di Akademi Kebidanan Dharma Husada, dari 20 mahasiswa, 16 mahasiswa mengaku pernah mengalami kekerasan saat pacaran dan 4 diantaranya mengaku tidak pernah mendapatkan kekerasan dalam pacaran.
Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti gambaran kekerasan dalam pacaran yang dialami remaja usia 17 – 21 tahun di Program Studi Kebidanan .......

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana gambaran kekerasan dalam pacaran pada remaja usia 17 – 21 tahun di Program Studi Kebidanan ......?“.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh gambaran kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh mahasiswa Program Studi Kebidanan .......
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui bentuk kekerasan fisik dalam pacaran.
1.3.2.2 Mengetahui bentuk kekerasan seksual dalam pacaran. 1.3.2.3 Mengetahui bentuk kekerasan emosional dalam pacaran. 1.3.2.4 Mengetahui bentuk kekerasan ekonomi dalam pacaran.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat meningkatkan pengetahuan dan memperluas cakrawala pandang tentang gambaran kekerasan dalam pacaran yang dialami mahasiswa Program Studi Kebidanan .......
1.4.2 Bagi Mahasiswa
1.4.2.1 Mahasiswa menyadari bentuk kekerasan dalam pacaran yang pernah di alaminya.
1.4.2.2 Mahasiswa mampu mengambil tindakan yang tepat jika mengalami kekerasan dalam pacaran.
1.4.3 Bagi Institusi
Sebagai bahan tambahan pengetahuan dan informasi sehingga dapat dikembangkan pada penelitian – penelitian selanjutnya.

 silahkan download dalam bentuk dokumen word
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN KEKERASAN DALAM  PACARAN PADA REMAJA USIA 17 – 21 TAHUN DI PROGRAM STUDI KEBIDANAN
(isi: abstrak, Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka, kuesioner)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Kekerasan dalam Pacaran pada Remaja Usia 17 – 21 tahun di Program Studi Kebidanan
iklan

Jumat, 15 April 2011

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA .... Terhadap Infeksi Menular Seksual

iklan
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA SMA WIYATA DHARMA MEDAN TERHADAP INFEKSI MENULAR SEKSUAL

ABSTRAK

Sampai saat ini, infeksi menular seksual masih menjadi masalah kesehatan, sosial maupun ekonomi di berbagai negara. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insidens infeksi menular seksual atau paling tidak insidensnya relatif tetap. Namun demikian, di sebagian besar negara insidens infeksi menular seksual relatif masih tinggi. Kebanyakan penderita infeksi menular seksual adalah remaja usia 15-29 tahun, tetapi ada juga bayi yang tertular karena tertular dari ibunya. Tingginya kasus penyakit infeksi menular seksual, khususnya pada kelompok usia remaja, salah satu penyebabnya adalah tingkat pengetahuan remaja yang relatif masih rendah. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi sikap remaja terhadap infeksi menular seksual.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap siswaii SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dan dilakukan dengan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswaii SMA Wiyata Dharma Medan. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 84 orang dengan tingat ketepatan relatif (d) sebesar 0,1. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Sampel kemudian didistribusikan secara proposional berdasarkan tingkatan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif.
Hasil uji tingkat pengetahuan dan sikap siswaii SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan siswaii SMA Wiyata Dharma Medan berada dalam kategori kurang baik (52,4%) dan sikap siswaii tersebut termasuk dalam kategori cukup baik (57,1%).
Dari hasil penelitian tersebut diharapkan pihak sekolah maupun luar sekolah dapat memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan pendidikan seks kepada siswaii tersebut.
Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Remaja, Infeksi menular seksual


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Menurut WHO (2009), terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba (bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis, infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan hepatitis B. Beberapa diantaranya, yakni HIV dan syphilis, dapat juga ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan kelahiran, dan melalui darah serta jaringan tubuh.
Sampai sekarang, infeksi menular seksual masih menjadi masalah kesehatan, sosial maupun ekonomi di berbagai negara (WHO, 2003). Peningkatan insidens infeksi menular seksual dan penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insidens infeksi menular seksual atau paling tidak insidensnya relatif tetap. Namun demikian, di sebagian besar negara insidens infeksi menular seksual relatif masih tinggi (Hakim, 2003). Angka penyebarannya sulit ditelusuri sumbernya, sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita yang terdata hanya sebagian kecil dari penderita sesungguhnya (Lestari, 2008).
Di Indonesia, infeksi menular seksual yang paling banyak ditemukan adalah syphilis dan gonorrhea. Prevalensi infeksi menular seksual di Indonesia sangat tinggi ditemukan di kota Bandung, yakni dengan prevalensi infeksi gonorrhea sebanyak 37,4%, chlamydia 34,5%, dan syphilis 25,2%; Di kota Surabaya prevalensi infeksi chlamydia 33,7%, syphilis 28,8% dan gonorrhea 19,8%; Sedang di Jakarta prevalensi infeksi gonorrhea 29,8%, syphilis 25,2% dan chlamydia 22,7%. Di Medan, kejadian syphilis terus meningkat setiap tahun. Peningkatan penyakit ini terbukti sejak tahun 2003 meningkat 15,4% sedangkan pada tahun 2004 terus menunjukkan peningkatan menjadi 18,9%, sementara pada tahun 2005 meningkat menjadi 22,1%. Setiap orang bisa tertular penyakit menular seksual. Kecenderungan kian meningkatnya penyebaran penyakit ini disebabkan perilaku seksual yang bergonta-ganti pasangan, dan adanya hubungan seksual pranikah dan diluar nikah yang cukup tinggi. Kebanyakan penderita penyakit menular seksual adalah remaja usia 15-29 tahun, tetapi ada juga bayi yang tertular karena tertular dari ibunya (Lestari, 2008).
Tingginya kasus penyakit infeksi menular seksual, khususnya pada kelompok usia remaja, salah satu penyebabnya adalah akibat pergaulan bebas. Sekarang ini di kalangan remaja pergaulan bebas semakin meningkat terutama di kota-kota besar. Hasil penelitian di 12 kota besar di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah melakukan hubungan seksual. Pakar seks juga spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut didapat dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut umumnya masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Rauf, 2008).
Pengetahuan tentang infeksi menular seksual dapat ditingkatkan dengan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai pada usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan
pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga mengenai bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang belum diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi (BKKBN, 2005). Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mendapatkan bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja terhadap infeksi menular seksual agar dapat diketahui apakah diperlukan tambahan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja dalam upaya menghambat peningkatan insidens infeksi menular seksual di kalangan remaja dewasa ini.

1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang menjadi dasar dilakukannya penelitian ini adalah bahwa penulis ingin mengetahui:
Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual?

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual.
Tujuan Khusus •
Yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Memperoleh informasi tentang pengetahuan remaja SMA Wiyata Dharma Medan tentang infeksi menular seksual.
2. Memperoleh informasi tentang sikap remaja SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual.

1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan mengenai gambaran pengetahuan dan sikap remaja terhadap infeksi menular
seksual sehingga dapat direncanakan suatu strategi untuk menindaklanjutinya.
2. Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah dalam memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi pada kalangan remaja.
3. Sebagai bahan masukan bagi orang tua dalam upaya merangsang kepedulian orang tua terhadap pendidikan seksual anak yang dimulai pada usia remaja.
4. Sebagai bahan masukan bagi remaja dalam menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.

silahkan download dalam bentuk dokumen word
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA SMA TERHADAP INFEKSI MENULAR SEKSUAL
(isi: abstrak, Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka, kuesioner)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA .... Terhadap Infeksi Menular Seksual
iklan

Karakteristik Penderita Kanker Leher Rahim di RSUD

iklan
KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER LEHER RAHIM DI RSUD

ABSTRAK
KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER LEHER RAHIM
DI RSUD ............ KOTA ........ PERIODE
1 JANUARI S/D 31 DESEMBER 2009
Rata Penuh
Kanker leher rahim mempunyai insidens yang tertinggi di Negara berkembang dan di Indonesia khususnya. Di Indonesia jenis kanker ini paling sering ditemukan di antara penyakit kanker ginekologik, kejadiannya hampir 27 persen di antara penyakit kanker di Indonesia dan juga menjadi penyebab utama kematian wanita penderita kanker. Maka pengetahuan terhadap kanker pada umumnya dan kanker leher rahim pada khususnya haruslah semakin lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Penderita Kanker Leher Rahim di RSUD ............ Kota ........ Periode 1 Januari – 31 Desember 2009, khususnya berdasarkan pada usia pasien, paritas, usia ketika menikah dan jenis kontrasepsi.
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif, secara retrospektif. Data diperoleh dari catatan medik Penderita Kanker Leher Rahim di RSUD ............ Kota Kedir Periode 1 Januari – 31 Desember 2009. Pada periode tersebut tercatat ada 19 orang penderita.
Hasil penelitian didapatkan dari 19 penderita berdasarkan karakteristik yang menjadi faktor resiko yaitu pada wanita yang berusia 36 – 55 tahun (94,74%) , pada mereka yang multiparitas (73,69%), pada wanita yang mempunyai riwayat menikah usia < style="text-align: center;">BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kanker leher rahim merupakan kanker yang terjadi pada serviks uterus, yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukkan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun (Yohanes R, 1999)
Penyebab kanker leher rahim belum diketahui secara pasti. Ada beberapa hal yang diduga dapat menambah resiko timbulnya kanker leher rahim, diantara yang penting jarang ditemukan pada perawan (virgo), insiden lebih tinggi pada mereka yang sudah kawin daripada yang belum kawin, insiden meningkat dengan tingginya paritas, apalagi jika jarak persalinan terlalu dekat, mereka yang dalam golongan sosial ekonomi rendah, aktivitas seksualnya sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), higiene seksual yang jelek, jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), dan sering dijumpai pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18, pada gadis yang koitus pertama (coitarche) dialami pada usia amat muda (<16 style="font-weight: bold;">1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah karakteristik penderita kanker leher rahim di RSUD ............ Kota ........ periode 1 Januari s/d 31 Desember 2009?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui karakteristik penderita kanker leher rahim di RSUD ............ Kota ........ mulai periode 1 Januari s/d 31 Desember 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui karakteristik penderita kanker leher rahim berdasarkan usia pasien.
2. Mengetahui karakteristik penderita kanker leher rahim berdasarkan paritas.
3. Mengetahui karakteristik penderita kanker leher rahim berdasarkan usia ketika menikah.
4. Mengetahui karakteristik penderita kanker leher rahim berdasarkan jenis kontrasepsi yang digunakan.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat menerapkan teori riset kebidanan tentang karakteristik penderita kanker leher rahim.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan dalam memberikan pengetahuan dan informasi dari hasil penelitian untuk dikembangkan pada penelitian selanjutnya.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan dapat menjadi masukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap kanker leher rahim.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER LEHER RAHIM DI RSUD
(isi: abstrak, Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka, kuesioner)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Karakteristik Penderita Kanker Leher Rahim di RSUD
iklan

Selasa, 12 April 2011

Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMP Negeri

iklan
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG
MENARCHE DI SMP NEGERI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menstruasi (haid) merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita, dimana terjadi perubahan-perubahan siklik dari alat kandungannya sebagai persiapan untuk kehamilan. Pada masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Ini ditandai dengan pertumbuhan yang terus berlanjut menuju kondisi somatik, sexual dan psikologi yang lebih matur. Perubahan-perubahan tersebut tidak terjadi secara spontan, tetapi melalui proses pertumbuhan yang cepat setelah menstruasi pertama (menarche). Di akhir masa kanak-kanak akhir sebenarnya terjadi pada masa menjelang kedatangan masa remaja (Jamaluddin, 2004).
Menarche adalah haid yang pertama kali datang. Gejalanya terasa sakit pada daerah mamae, bagian abdomen dan pinggang dan ada sebagian remaja mengalami tumbuhnya jerawat pada saat haid pertamanya.
Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang lebih dikenal dengan masa pubertas. Permulaan masa pubertas yang sering disebut sebagai pematangan fungsi reproduksi, pada perempuan ditandai dengan haid. Remaja putri yang telah memasuki masa pubertas akan mengalami menarche (Manuaba, 2004).
Di Amerika sekitar 95% anak perempuan mempunyai tanda pubertas pada umur 12 tahun dan umur rata-rata 12,5 tahun. Menarche atau menstruasi pertama merupakan salah satu perubahan pubertas yang pasti dialami setiap anak perempuan (Ganong, 2003).
Usia untuk mencapai fase terjadinya menarche dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor suku, genetik, sosial, sekonomi, dan lain-lain. Di Inggris usia rata-rata untuk mecapai menarche adalah 13,1 tahun, sedangkan suku Bunding di Papua, Menarche dicapai pada usia 18,8 tahun (Jamaluddin, 2004).
Bahwa di Indonesia gadis remaja pada waktu Menarche bervariasi antara 10-16 tahun dan rata-rata Menarche 12,5 tahun, usia Menarche lebih dini di daerah perkotaan dari pada yang tinggal di Desa dan juga lebih lambat wanita yang kerja berat (Wiknjosastro, 2003).
Menarche menjadi hal yang penting bagi seorang wanita dan perlu mendapat perhatian khusus karena hal ini menandai awal kedewasaan biologis seorang wanita (Huffman, 1968).
Anak-anak berusia 12 tahun atau 13 tahun sampai 19 tahun sedang berada dalam pertumbuhan yang mengalami masa remaja. Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya (Maju, 1996).
Menjadi remaja berarti mengalami proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan, lonjakan pertumbuhan badani dan organ reproduksi adalah masalah besar yang mereka hadapi, terutama wanita. Menarche adalah peristiwa paling penting pada remaja putri sebagai pertanda siklus masa subur sudah dimulai (Huffman, 1968)
Dari hasil survey pendahuluan yang saya dapatkan di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009 terdapat 300 siswa perempuan, sedangkan yang telah mengalami menarche terhitung 30 orang.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui tentang “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009.
C.2. Tujuan Khusus
C.2.1. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009 berdasarkan umur.
C.2.2. Untuk mengetahui Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009 berdasarkan tempat tinggal.
C.2.3. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang Menarche di SMP Negeri 5 ......... Tahun 2009 berdasarkan informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengetahuan remaja putri tentang Menarche dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.
C.2. Bagi yang diteliti
Sebagai bahan informasi bagi siswi di SMP Negeri 5 ......... tentang tingkat pengetahuan terhadap Menarche.
C.3. Bagi peneliti
Menambah pengalaman penulis dalam melakukan penelitian tentang Menarche dan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Pendidikan D.III Kebidanan.



silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP NEGERI
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran; Daftar Pustaka)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche di SMP Negeri
iklan

Sabtu, 09 April 2011

Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas Tentang Dysmenore di SMP

iklan
KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS
TENTANG DYSMENORE DI SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas, dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menstruasi merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan pubertas wanita.
Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri sedang menginjak dewasa, dan sebagai tanda sudah mampu hamil. Namun perlu diingat bahwa jiwa remaja masih belum stabil dan belum mampu mandiri secara ekonomi maupun sosial. Jadi ia belum siap untuk hamil, yang terbaik adalah remaja putri mempersiapkan diri untuk mandiri, mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan yaitu paling sedikit 9 tahun, memasuki pernikahan yang direstui orang tua dan masyarakat, kemudian merencanakan kehamilan pada usia yang tepat yaitu usia 20-30 tahun. Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menstruasi dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum (Sarwono, 1999).
Pada umumnya remaja putri belajar tentang menstruasi dan gangguan yang menyertainya dari ibunya, tapi tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka sampai putrinya mengalami menstruasi. Sehingga hal ini menimbulkan kecemasan pada anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Dengan kata lain, dia mengembangkan sikap negatif tentang menstruasi. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai penyakit. Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu (Manuaba, 1998).
Dilihat dari segi penduduk 73,4% sebagian penduduk di dunia adalah remaja. Indonesia menempati urutan nomor 5 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Lampung pada tahun 2000 dihuni oleh 6,654 juta jiwa dengan jumlah remaja usia 10-15 tahun sebanyak 652.322 jiwa (Hasil Sensus BPS Lampung, 2000).
Sejak tahun 2000, pemerintah mencanangkan suatu program yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja yang sasarannya adalah siswa SLTP, SLTA dan Remaja Karang Taruna. Pelaksanaan program ini secara lintas sektoral instansi pemerintah dan swasta seperti Pemda, Dinas Kesehatan, BKKBN, Polri dan LSM yang berasal dari masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan remaja tentang kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual (Llywellyn-Jones, 1997).
Hampir seluruh perempuan dan juga termasuk di dalamnya remaja pasti pernah merasakan nyeri haid (dysmenorrhea) dengan berbagai tingkatan, mulai dari yang sekedar pegal-pegal di panggul dari sisi dalam hingga rasa nyeri yang luar biasa sakitnya. Umumnya nyeri yang biasa terasa dibawah perut itu terjadi pada hari pertama dan kedua haid. Rasa nyeri akan berkurang setelah keluar darah yang cukup banyak.
Secara alamiah, penyebab nyeri haid bermacam-macam, dari meningkatnya hormon prostaglandin sampai dengan perubahan hormonal ketika mulai haid, dan bahkan kecemasan yang berlebihan. Bila dilihat dari faktor penyebabnya, nyeri haid dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu nyeri haid primer dan sekunder (http:// www.infosehat.com).
Batasan penelitian dalam penelitian pengetahuan remaja putri tentang dysmenorea di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah meliputi pengertian dysmenorea, klasifikasi dysmenorea, gejala dysmenorea, dan penanganan dysmenorea.
Dari hasil prasurvei terdapat 4 orang remaja putri siswi kelas III di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah dan diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswi tersebut belum mengerti dengan jelas pengertian dari dysmenorea, klasifikasi dysmenorea, tanda dan gejala yang menyertainya dan penanganan dysmenorea. Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja putri tentang dysmenorea di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: ”Bagaimana pengetahuan remaja putri kelas III tentang dysmenorea di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek Penelitian : Remaja putri siswi kelas III di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Objek Penelitian : Pengetahuan remaja putri tentang dysmenorea
Lokasi Penelitian : SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Waktu : Setelah proposal disetujui

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri siswi kelas III tentang dysmenorea di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya pengetahuan remaja putri siswa kelas III SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tentang pengertian dysmenorea.
b. Diketahuinya pengetahuan remaja putri siswa kelas III SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tentang klasifikasi dysmenorea.
c. Diketahuinya pengetahuan remaja putri siswa kelas III SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tentang tanda dan gejala yang menyertai dysmenorea
d. Diketahuinya pengetahuan remaja putri siswa kelas III SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tentang penatalaksanaan/penangan dysmenorea

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan remaja putri tentang dysmenorea.
2. Bagi Institusi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukkan untuk memperluas wawasan mahasiswi jurusan kebidanan.
3. Bagi Peneliti
Dapat memberikan masukan hal-hal apa saja yang telah diteliti sehingga digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
4. Bagi Responden
Agar remaja putri di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah mendapat tambahan pengetahuan tentang dysmenorea.



silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas Tentang Dysmenore di SMP
iklan

Pengetahuan Remaja Putri Kelas III Tentang Seks Sekunder di SMP

iklan
KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS III
TENTANG SEKS SEKUNDER DI SMP


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
WHO dan beberapa badan dunia lainnya tahun 1998, menghimbau semua Negara Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi kebutuhan remaja akan informasi, ketrampilan, pelayanan dan lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja. (Soetjiningsih, 2004).
Departemen kesehatan RI bersama lembaga swasta tahun 1996 telah merumuskan tentang empat komponen pelayanan reproduksi essensial yaitu kesehatan Ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan pemberantasan IMS/ HIV-AIDS dan dengan sendirinya harus ditangani secara khusus yaitu dengan peralatan yang cukup dan tenaga yang terlatih.
Tujuan kesehatan reproduksi remaja adalah menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang tidak aman, menurunkan penularan IMS/HIV-AIDS, memberikan informasi kontrasepsi dan konseling untuk mengambil keputusan sendiri tentang kesehatan reproduksi. (Soetjiningsih, 2004).
Remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan¬-perubahan psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan Biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda. (Soetjiningsih, 2004).
Selama perkembangan menuju dewasa, tubuh berkembang secara terus menerus. Keseluruhan frekuensi perubahan terjadi dengan cepat sebelum lahir, selama masa bayi, dan saat pubertas.(Cristian , 2004).
Masa pubertas adalah terjadinya perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak kemasa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak kedewasa. (Soetjiningsih, 2004).
Perubahan fisik pubertas dimulai sekitar usia 10 atau 11 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum perubahan pubertas pada remaja laki-laki. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja, sementara itu perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya sehingga mereka sering merisaukan bentuk tubuhnya yang kurang proporsional tersebut. Apabila mereka sudah dipersiapkan dan mendapatkan informasi tentang perubahan tersebut maka mereka tidak akan mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya, tetapi bila mereka kurang memperoleh informasi, maka akan merasakan pengalaman yang negatif (Soetjiningsih, 2004).
Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 15 % populasi. Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 - 19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10 - 19 tahun adalah sekitar 22 % yang terdiri dari 50,9 % remaja laki-laki dan 49,1 % remaja perempuan. (Nancy P, 2002).
Sedangkan jumlah penduduk di propinsi Lampung tahun 2005 adalah 6.983.699 jiwa dan jumlah remaja usia 10-14 tahun adalah 714.615 jiwa sedangkan yang berusia 15-19 tahun adalah 761.516 jiwa (BPS Lampung, 2006), saat ini jumlah penduduk di Kota Metro sekitar 125.086 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia 10-14 tahun adalah 12.334 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia 15-19 tahun adalah 14.513 jiwa (BPS Metro 2005).
Batasan penelitian ini adalah pengetahuan remaja awal (11-13 tahun) tentang pubertas di SMP Kartikatama Metro meliputi pengertian pubertas dan perubahan fisik ada saat pubertas.
Dari hasil prasurvey terhadap 15 siswa yang berusia 11-13 tahun di SMP Kartikatama Metro, peneliti melakukan wawancara mengenai pengertian dan perubahan fisik pada saat pubertas dan didapatkan bahwa hampir semuanya belum mengerti tentang pengertian dan perubahan fisik pada saat pubertas.
Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja awal usia (11-13 tahun) tentang pengertian dan perubahan fisik pubertas di SMP Kartikatama Metro.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: "Bagaimana pengetahuan remaja awal (11-13 tahun) tentang pengertian dan perubahan fisik pubertas di SMP Kartikatama Metro tahun 2007".

C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Remaja awal 11 - 13 tahun di SMP Kartikatama Metro.
3. Objek Penelitian : Tingkat pengetahuan remaja awal (11-13 tahun) tentang pengertian dan perubahan fisik pubertas.
4. Lokasi Penelitian : Di SMP Kartikatama Metro.
5. Waktu Penelitian : April-Mei 2007
6. Alasan Penelitian : Dari awal hasil presurvey terhadap 15 siswa yang berusia 11-13 tahun di SMP Kartikatama Metro, peneliti melakukan wawancara mengenai pengertian dan perubahan fisik pada saat pubertas dan didapatkan bahwa hampir semuanya belum mengerti tentang pengertian dan perubahan fisik pada saat pubertas.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja awal (11-13 tahun) tentang pengertian dan perubahan fisik pubertas di SMP Kartikatama Metro tahun 2007.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan remaja awal (11 -13 tahun) tentang pubertas.
2. Bagi Instansi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa jurusan kebidanan.
3. Bagi penelitian
Dapat memberikan masukan hal - hal apa saja yang telah diteliti sehingga digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
4. Bagi Responden
Sebagai bahan informasi dan dapat menambah pengetahuan remaja awal (11-13 tahun) di SMP Kartikatama Metro tentang pubertas.



silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS III TENTANG SEKS SEKUNDER DI SMP
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Pengetahuan Remaja Putri Kelas III Tentang Seks Sekunder di SMP
iklan

Kamis, 07 April 2011

Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Terhadap Resiko Perkawinan Dini Pada Kehamilan dan Proses Persalinan

iklan
KTI KEBIDANAN
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pola pikir zaman primitif dengan zaman yang sudah berkembang jelas berbeda, hal ini dibuktikan dengan sebuah paradoks perkawinan antara pilihan orang tua dengan kemauan sendiri, pernikahan dini dipaksakan atau pernikahan dini karena kecelakaan. Namun prinsip orang tua pada zaman ganepo atau zaman primitif sangat menghendaki jika anak perempuan sudah baligh maka tidak ada kata lain kecuali untuk secepatnya menikah. Kondisi demikian, dilatarbelakangi oleh keberadaan zaman yang masih tertinggal, maka konsep pemikirannya pun tidak begitu mengarah pada jenjang kehidupan masa depan yang lebih baik. Tradisi pernikahan zaman nenek moyang lebih terpacu dengan prospek budaya nikah dini, yakni berkisar umur 15 tahun para wanita dan pria berkisar umur 20 tahun atau kurang (Dlori, 2005).
Para remaja dewasa ini, generasi terbesar dalam usia 10-19 tahun di dalam sejarah, beranjak dewasa di dunia yang sangat berbeda daripada dunia di waktu para orang tua mereka beranjak dewasa. Meskipun laju perubahan berbeda di antara dan di dalam wilayah dunia, masyarakat berada di dalam keadaan kesempatan baru yang membingungkan bagi para pemuda.
Perbaikan di bidang transportasi dan komunikasi membuka kesempatan bagi para pemuda, bahkan yang tinggal di daerah-daerah terpencil mengenal orang-orang dengan tradisi dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda, walaupun dunia semakin urban dan industrialisasi menawarkan godaan kemajuan dan kesempatan. Tetapi, tanpa pendidikan dan latihan yang memadai, para remaja tidak akan mampu memenuhi tuntutan lingkungan pekerjaan modern, dan tanpa bimbingan orang tua, masyarakat serta para pemimpin pemerintahan, para remaja mungkin tidak siap untuk menilai hasil dari keputusan yang diambil mereka. Kendati demikian, di dunia berkembang, dimana kemiskinan luas dan berkepanjangan, sejumlah keluarga mungkin terpaksa menggagalkan pendidikan anak-anak kalau tenaga mereka dibutuhkan untuk membantu rumah tangga.
Pemerintah bertujuan untuk menyediakan pendidikan dasar yang dapat diperoleh secara luas. Oleh sebab itu, perempuan muda di hampir semua negara boleh dikatakan lebih mungkin memperoleh pendidikan dasar daripada yang dulu didapatkan oleh ibu mereka, dan di dunia berkembang perbedaanya bisa sangat besar. Misalnya, di Sudan, 46% remaja berumur 15-19 tahun sudah menempuh tujuh tahun atau lebih masa sekolah, dibandingkan dengan 5% dari para wanita berumur 40-44 tahun. Begitupun, disparitas, terutama di segi sosio-ekonomi dan di lingkungan kehidupan, masih bertahan. Di sebagian negara berkembang, kemungkinan perempuan muda kota untuk memperoleh pendidikan dasar adalah 2-3 kali lipat dibanding dengan perempuan-perempuan yang berada di pedalaman. Di sebagian besar negara, 70-100% anak-anak mendaftar di sekolah dasar, tetapi lamanya waktu yang digunakan untuk belajar di sekolah berbeda sekali. (Laporan Institut Alan Guttmatcher "Into A New World: Young Women's Sexual and Reproductive Lives" http://www.agi-usa.org/pubs/new_ world_indo.html.2005).
Sejumlah rintangan masa remaja sifatnya sama bagi semua remaja, masa-masa remaja lebih sulit bagi kaum wanita. Meskipun sebagian usia 10-19 baru mulai mengalami perubahan-perubahan yang datang bersama masa pubertas, banyak mulai mengalami hubungan seksual atau perkawanan. Dan setiap tahun, kira-kira 14 juta perempuan muda berumur 15-19 melahirkan. Melahirkan anak pada usia remaja di dunia berkembang adalah soal biasa, di mana proporsi yang telah melahirkan anak pertama sebelum umur 18 biasanya antara seperempat dan setengah (Grafik 1). Sebaliknya, di dunia maju, dan di sebagian kecil negara berkembang, kurang dari satu dalam 10 melahirkan anak pertama pada usia remaja.
Paling sedikit setengah perempuan muda di negara Afrika Sub-Sahara, mulai hidup bersama pertama kali sebelum usia 18 tahun. Di Amerika Latin dan di Karibia, 20-40% dari wanita muda memasuki hidup bersama, dan di Afrika Utara dan Timur Tengah, proporsinya 30% atau kurang. Di Asia, kemungkinan perkawinan awal berbeda sekali, 73% perempuan di Bangladesh memasuki kehidupan bersama sebelum usia 18, dibandingkan dengan 14% di Filipina dan Sri Langka, dan hanya 5% di Cina. Para wanita di negara maju tidak mungkin kawin sebelum usia 18; walaupun di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat sebanyak 10-11% melakukannya, tetapi di Jerman dan di Polandia hanya 3-4% wanita semuda ini melakukannya.
Perkawinan awal kurang biasa sekarang dibandingkan dengan satu generasi yang lalu, walaupun perbedaan yang luas terdapat di antara dan di dalam daerah-daerah. Misalnya, di Afrika Sub-Sahara proporsi wanita yang telah kawin sebelum umur 18 hampir tidak berubah, di Ghana (39% dari usia 40-44 tahun dibanding 38% usia 20-24 tahun) dan di Pantai Gading (49% dibanding 44%), tetapi di Kenya telah menurun dengan tajam (47% dibanding 28%) sebaliknya, penurunan hebat terjadi di seluruh Asia sedangkan di Amerika Latin dan Karibia tingkat perkawinan awal boleh dikatakan tetap stabil (Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat. U.S. Agency for International Development http://www.agi-usa.org/pubs/new_ world_indo. html.2005)
Grafik Proporsi wanita yang melahirkan anak pertama mereka sebelum usia 18 tahun berkisar dari 1% di Jepang sampai 53% di Niger.
Sumber data: Survei Demografi dan Kesehatan, Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (U.S. Agency for International Development http://www.agi-usa.org/pubs/new_ world_indo. html.2005)
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 30 tahun, lebih atau kurang dari usia tersebut adalah berisiko. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi. Secara umum, seorang perempuan dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik (www.bkkbn.co.id.2001-2005).
Perkawinan menandai sebuah transisi penting di dalam kehidupan individu, dan jadwal peristiwa itu dapat mendatangkan dampak yang dramatis terhadap masa depan seorang pemuda. Sementara di sebagian masyarakat pengalaman pertama seksual seorang perempuan kemungkinan dengan suaminya, di masyarakat-masyarakat lainnya permulaan aktivitas seksual tidak begitu erat hubungannya dengan perkawinan. Kebiasaan yang berbeda mengenai hubungan dan perilaku seksual, dan cara sebuah masyarakat mengadaptasi perubahan kebiasaan tersebut, dapat menimbulkan dampak yang dalam pada seorang pemuda, keluarganya dan masyarakatnya secara menyeluruh.
Bagi seorang wanita, pernikahan awal dan, terutama, melahirkan anak, mempunyai pengaruh yang dalam dan berkepanjangan terhadap kesejahteraan, pendidikan dan kemampuan memberikan sumbangsih terhadap masyarakatnya. Begitupun, faktor-faktor kompleks, baik yang berupa fisik, maupun kekeluargaan dan kebudayaan yang sering kurang dipahami, menentukan siapa dan kapan seseorang akan menikah; siapa akan memulai aktivitas seksual pra-nikah, siapa akan mulai melahirkan pada masa remaja; dan siapa akan melahirkan di luar nikah. Data yang ada menunjukkan bahwa sementara kebutuhan dan pengalaman remaja berbeda di seluruh dunia namun ada persamaan yang terdapat di berbagai lintas nasional dan regional (http://www.agi-usa.org/pubs/new_ world_indo. html.2005)
Menurut survey tahun 1995 terdapat 21,5% wanita di Indonesia yang perkawinan pertamanya dilakukan ketika berusia 17 tahun. Di daerah pedesaan dan perkotaan wanita melakukan perkawinan di bawah umur tercatat masing-masing 24,4% dan 16,1%. Persentase terbesar kawin muda terdapat di Propinsi Jawa Timur 90,3%, Jawa barat 39,6% dan Kalimantan Selatan 37,5%.
Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa pernikahan di Indonesia yang dilakukan pada usia remaja lebih banyak terjadi di pedesaan. Pada pra survey yang telah penulis lakukan di Kecamatan ....... ........ ................. didapat data jumlah pernikahan sebagai berikut:
Tabel 1.1 Jumlah Pernikahan Menurut Usia Di Kecamatan ....... ........ Tahun 2007 Sampai Dengan Tahun 2009
No Tahun Usia Pernikahan Jumlah Pernikahan
<> 20 tahun
1 2007 40 (86,9%) 6 (13,1%) 46 orang
2 2008 46 (90,2%) 5 (9,8%) 51 orang
3 2009 33 (78,5%) 9 (21,4%) 42 orang
Sumber data: Catatan Sipil ....... ........ ................. Tahun 2005.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah yang ada yaitu masih adanya pernikahan dini di Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. yang bisa beresiko baik pada saat hamil maupun pada saat proses persalinan.

1.3 Rumusan Masalah dan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini yaitu bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri terhadap resiko pernikahan dini (kawin muda) pada kehamilan dan proses persalinan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010

1.4 Pertanyaan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis membagi dua sub pertanyaan tentang gambaran pengetahuan remaja putri terhadap resiko pernikahan dini, yaitu:
1.4.1 Resiko Pada Kehamilan
Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan remaja putri terhadap resiko perkawinan dini pada kehamilan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010?
1.4.2 Resiko Pada Proses Persalinan
Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan remaja putri tentang resiko perkawinan dini pada proses persalinan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010?

1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri terhadap resiko perkawinan dini pada kehamilan dan proses persalinan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010.
1.5.2 Tujuan Khusus
1) Untuk dapat mengidentifikasikan tingkat pengetahuan remaja putri terhadap resiko perkawinan dini pada kehamilan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010
2) Untuk dapat mengidentifikasikan tingkat pengetahuan remaja putri tentang resiko perkawinan dini pada proses persalinan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. tahun 2010

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Bagi Remaja Putri
Untuk memberikan informasi tentang resiko pernikahan dini pada kehamilan dan proses persalinan.
1.6.2 Bagi Masyarakat
Manfaat penelitian bagi masyarakat, yaitu untuk memberikan informasi tentang resiko pernikahan dini terhadap kehamilan dan proses persalinan, untuk memberikan informasi tentang usia pernikahan yang sesuai dengan Undang-undang yang telah ditetapkan pemerintah, serta untuk memberi pengetahuan tentang usia hamil dan melahirkan yang baik/tidak beresiko.
1.6.3 Bagi Pihak Institusi Pendidikan
Sebagai bahan penelitian acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai pernikahan dini yang dapat beresiko terhadap kehamilan dan proses persalinan.
1.6.4 Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah Metodologi Penelitian dan menambah pengalaman dalam penulisan KTI, serta sebagai masukan pengetahuan tentang pernikahan dini.
1.6.5 Bagi Peneliti Lainnya
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian di tempat lain.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif, subjek penelitiannya yaitu remaja putri. Sedangkan objek penelitiannya adalah resiko pernikahan dini pada kehamilan dan proses persalinan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ..................
Adapun waktu dan tempat penelitian ini dilaksanakan di Desa ............ Kecamatan ....... ........ Kabupaten ................. pada bulan April s.d Mei tahun 2010.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN


FGAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
KLIK DIBAWAH
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Terhadap Resiko Perkawinan Dini Pada Kehamilan dan Proses Persalinan
iklan

ARTIKEL TERKAIT (SILAHKAN KLIK):